kalimantan barat


BPN #11 | Kota-Kota yang Pernah Ditinggali



Yang namanya pindahan itu, ribetnya super.  Asli!

Kok jangankan pindah tinggal yang jaraknya jauh, hingga beda kota atau pulau. Pindahan yang Cuma beda 1 gang aja, ribetnya tetep minta ampun.

Iya nggak?
Yang sering pindah-pindah tempat tinggal pasti tahu rasanya.

E-tapi kalau pindahnya antar kota atau bahkan antar pulau, sebenernya ada serunya juga, lho. Kita jadi nambah pengalaman baru, teman baru, wawasan baru—yang bahkan bisa membuat pikiran kita jadi lebih terbuka dari sebelumnya.

Anyway, ngomongin soal pindah kota, ternyata saya pernah tinggal di kota-kota ini, lho. Cek yuk siapa tau kita pernah tetanggaan.




***




PUTUSSIBAU – Kalimantan Barat


Ada yang tau Kota ini?

Yuhuu...

Putussibau ini terletak 12 jam perjalanan darat dari kota Pontianak. Ulala.
Nggak Cuma 12 jam doang. Tapi medan jalannya juga, wuihhh mantab jiwa! Naik turun dan berkelok-kelok.

Tempatnya yang tergolong terpencil dan akses yang lumayan sulit menuju Kota besar, membuat Kota Putussibau ini lebih mandiri dan membentuk kota kecil sendiri.

Jaman saya tinggal disini, listriknya masih menggunakan BBM.
Mahal itu pasti. Parahnya lagi, harus bergilir. Jadi akan ada 1 hingga 2 hari pemadaman bergilir. Itu juga belum termasuk jika ada keterlambatan pengiriman bahan bakar. 

Saat musim kemarau panjang misalnya, dimana debit sungai kapuas tak cukup menopang perahu pengangkut BBM tersebut. Karena untuk pengiriman melalui darat sepertinya lebih beresiko, dan tentunya biaya ongkos kirim yang lebih tinggi.


Nah lho, yang sudah dikasih fasilitas listrik non-stop dari jaman beheula dan masih hobi ngeluh, sana minta ditenggelamkan saja sama Bu Susi!



popbela.com


Lebih-lebih soal bahan makanan, terutama sayuran dan ikan laut. Eh daging sapi juga deing.

Mahal!

Jaman itu, seikat bayam yang kalau di jawa harganya masih 500 perak, atau kalau emak-emak nawar bisa seribu dapet 3 iket. Di Putussibau harganya bisa 2 hingga 3 ribu per ikat, dengan ikatan yang lebih kecil.

Cabe rawit 3 rebu dapet 10 biji itu udah biasa.

Daging sapi yang di jawa masih di kisaran nggak sampai 50 ribu (pada jamannya), disini sudah 100 ribu paling murah, lho. Nyeseknya lagi, penjualnya hanya ada satu dan buka lapaknya hanya seminggu sekali.

Belum lagi soal ikan. Jangankan ikan laut yang harganya bisa 60 hingga 80 rebuan, karena memang jauh sekali dari laut. Ikan air tawar yang notabene dihasilkan dari sungai kapuas yang ada di kota ini sendiri pun mahal.

Kenapa?
Karena nangkap ikannya harus pakai perahu, perahu harus pakai solar, dan solar mahal.


Nah itu juga tuh, yang ketika Pertamax-Dex naik 500 perak dia ikutan ngomel-ngomel padahal belinya selalu premium doang, tenggelamkan di kapuas aja!





Penduduk putussibau, belanja 100 ribu Cuma dapet tempe sama cabe doang itu udah biasa, hafal, khatam.
Tapi soal Duren, hmm jangan ditanya. Murah! Boleh gratis kalau mau nyari ke hutan. Seriusan. Bhahah!

Tapi itu dulu sih.

Semoga pemerintahan yang sekarang dan yang setelahnya akan lebih memperhatikan kota-kota terpencil yang ada di dekat perbatasan, ya. Jadi judul pemerataan ekonomi bisa terwujud. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa nyata. Kalaupun nggak bisa sama persis sih, minimal nggak ngejomplang banget.


Ihh apaan sih mak ngomongin pemerintahan segala!

Hehe.
Baiklah, skip ya urusan politik. Kita bahasa yang enak-enak aja.



Makanan.

Nah ini nih.

Karena saya tinggalnya di lingkungan masyarakat jawa yang kebanyakan dari peserta program transmigrasi, jadi saya lebih banyak nemu makanan jawa juga. Nggak sulit nyari, yang jual banyak. 
Soal rasa, entahlah, saat itu saya belum nemu yang pas.

Tapi ada juga kue khas kota ini yang saya suka.


  • Kroket
Kroket yang ini beda, ya. yang disebut kroket disini adalah pastel goreng berisi singkong dan teri, dimakannya dicocol pakai kuah cabe. Ini dia penampakan hasil praktek saya kapan lalu pas lagi kangen ke ini.



kota putussibau dan cerita kecil saya
Kroket a.k.a Pastel Singkong khas Putussibau, KalBar


Ini jajanan kesukaan saya disini. Saat bulan Ramadhan tiba, biasanya kue ini nggak pernah absen dari lapak penjaja takjil, selain choi pan.
Nah kalo choi pan atau chai kue itu kue khas pontianak yang bentuknya mirip pastel juga, tapi dikukus. Semacam dumpling, lah.

Choi pan ini isinya bengkuang dengan taburan ebi diatasnya*semoga gak salah saya, ya. soalnya udah lama jadi lupa. Cara makannya juga dicocolin ke kuah cabe.




  • Kerupuk Basah
Ini the legeng of-nya Putussibau nih. Asli putussibau kalau yang ini.

Meski namanya kerupuk, jangan berharap kriuk-kriuk. Kerupuk basah, anggapan saya ya adonan kerupuk yang masih basah alias belum dijemur.
Dan iya, sih. Mirip gitu. Tapi kalau saya mendeskripsikannya lebih mirip siomay ikan, atau cilok ikan.

Kerupuk basah ini sepertinya berbahan dasar tepung sagu dan daging ikan, dibumbui sedikitnya bawang putih. Mungkin ada bumbu rempah lain juga seperti merica, ketumbar dan lainnya. Tapi yang saya ingat ya rasa bawang itu jelas.

Bentuknya lonjong seperti stik. Namun teksturnya lembek. Kebayang lah ya, tepung sagu dikukus macam apa modelnya.
Kerupuk basah ini dimakan dengan saus kacang, yang asli mirip sama bumbu siomay. That’s why I called siomay tadi.



makanan khas putussibau
Pontianakpost.co.id



  • Lapis Legit
Lebaran tanpa kue ini, nggah sah!

Ini termasuk jajanan yang wajib hadir di meja perjamuan tamu lebaran. Mulai dari yang kelas rasa tepung doang hingga yang rasa asli, buttery and rich. 

Serunya lebaran disini bisa sampai 7 hari, full. Dan semua saling bersilaturahmi tak peduli tua atau muda.

Misalnya hari ini saya berkunjung ke rumah si A, besok atau lusa semasa kurun waktu lebaran 7 hari itu si A akan balas balik berkunjung ke rumah saya. Begitu sebaliknya. Mau itu si A jauh lebih tua atau lebih muda dari saya.



***


Tiga kue ini sih yang paling teringat oleh saya. Dan saya suka.

Ada juga disini yang namanya terong asam dan terong pipit. Nah apaan lagi ini.


Terong asam ya rasanya asam. 
Banget. 
Saya lupa bentuk masakannya karena saya tidak menikmati masakan ini. Asem banget.

Sedangkan terong pipit bentuknya mirip leunca. Berwarna hijau sebiji-biji jagung gitu, gedean dikit lah. 
Biasanya dimasak tumis asam pedas manis dicampur irisan tempe. Tapi terong pipit beda sama leunca ya. Nama lain terong pipit ini takokak. Jika diraba, takokak ini lebih kasar permukaannya daripada leunca.

Kadang saya juga kangen masakan ini. Sayangnya, untuk menemukan si takokak ini susah. beberapa kali ada sih di supermarket lokal disini. Tapi kalaupun masak ini, yang doyan ya hanya saya. Terpaksa lah skip lagi.


E-tapi ya.
Serunya merantau itu, ketika bertemu dengan orang yang ternyata berasal dari kota yang sama, atau bahkan hanya pulau yang sama. 
Rasanya itu seperti bertemu saudara yang lama tak bersua. Seneng banget. 
Rasa persaudaraannya pun lebih hangat. Lebih akur daripada misalnya bertemu dengannya di kota tempat asal kita sendiri.


Nah itu tuh, yang sama tetangga masih pada berantem gara-gara beda pilihan lurah, merantau aja gih biar tercerahkan.



pictame.com

Asyekkk...


Tapi apapun lah itu, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Sebagai perantau harus menghormati keberagaman dan budaya setempat. Begitu juga warga setempat, hendaklah bersikap yang sama.


Eh tapi-tapi, ternyata selain di Putussibau saya juga pernah tinggal di kota-kota ini, lho. Hayo siapa yang pernah tetanggan sama saya?


  1. Jatirogo, Tuban
  2. Malang, daerah sekitaran sumber sari
  3. Jogja, sekitaran kampus UNY deket Mirota atau apa ya itu.
  4. Pasuruan, ya jelas lah, emak saya disini.
  5. Denpasar, jalan tukad badung gang XX.


Kalau sekarang saya lagi anteng ayem stay di Tabanan, Bali juga. 

Meskipun ya, apa-apa kudu nyari ke Denpasar dulu. Tapi tinggal di Tabanan ini lebih tenang lho, actually. 
Disini pula saya mulai belajar berhijrah, perlahan namun berharap bisa istiqomah.

Menemukan hidayah kecil yang membuat banyak perubahan dalam diri saya, yang meski awalnya berat, tapi alhamdulillah saya bisa.


Kalau kamu, pernah tinggal di kota mana aja?






2 Comments

  1. Wuiii Mirota Kampus yang di perempatan jalan itu kan ya mbak ? Itu tempat belanja bulanan langganan anak kos :D murah murahhh apalagi alat tulisnya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. perempatan atau apa ya, mirota apa bukan itu, saya lupa. hahaha. tapi dulu kalo belanja disitu, keluar gang aja udah nyampe. dan yang paling saya inget, kos saya dulu deket sama studio musik dan pernah lihat si artis grup band yang hits pada jamannya itu. duhh lupa saya. maap maap

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca artikel sampai selesai. Jangan lupa tinggalin jejak di kolom komentar, ya dear.

Harap berkomentar sesuai artikel, dengan bahasa yang baik dan sopan.
Link Aktif dan SPAM akan dihapus.
NO WAR!

Happy reading other article....