Nasi rawon ternikmat di minggu pagi beserta semangkuk kenangannya

semangkuk rawon khas pasuruan jawa timur
ilustrasi: hipwee.com

BPN #25 | Kenangan Masa Kecil



"Hal sederhana yang dulu terasa sangat nikmat karena keterbatasan, tak akan pernah terpuaskan saat kamu berusaha kembali meski dengan segala kemewahan yang kamu miliki.
Begitulah kenangan selalu bekerja, dengan cara Nya, dengan cara yang tak akan sanggup kamu beli." (s.w)


***


Minggu pagi itu, ibu mengulungkan kepadaku selembar uang kertas berwarna hijau kekuningan, 500 rupiah. 
Mataku masih agak sayu menenteng rantang kecil sembari menyusuri lahan kosong. Kala itu, rumah belum berderet-deret seperti sekarang.

Dengan penuh kehati-hatian dan hati yang riang ingin segera sampai ke rumah kembali, aku membawa seporsi nasi rawon sederhana. Hanya ada sekepal kecil perkedel tempe (mendol), sepotong kecil dendeng ragi tak berdaging, dan setengah potongan telur berbumbu bali.

Aku, ibuku, dan adik laki-lakiku yang belum genap lima tahun. Kami bertiga menyantapnya dengan penuh antusias, hampir berebut karena masih merasa lapar dan terasa kurang. 
Hanya seporsi nasi rawon tanpa daging, untuk kami bertiga. Sungguh, aku tak pernah sanggup membeli rasa nasi rawon seperti hari itu.


***



Iya , itu cerita masa kecil saya.

Setiap minggu pagi, pagi-pagi banget saya udah disuruh ibu saya beli seporsi nasi rawon untuk sarapan saya dan adik saya, ibu saya juga ikutan makan ding. Seporsi doang lho ya ini. Lauknya pun terbatas. Yaiyalah, 500 rupiah mau dapat apaan.

Ya meskipun saat itu semua masih serba murah. Saat sebelum kita terhempas oleh badai krisis moneter. 
Tapi tetep ya, seporsi nasi rawon plus seiris empal daging harganya enggak segitu juga.

Sekarang saat saya sudah tua dewasa, dan pengen nyicipin rawon itu lagi, rasanya udah beda. Padahal yang jual sama. Warungnya pun masih di tempat yang sama.

Dari saya beli yang versi komplit pakai empal daging, hingga menu minimalis persis kayak jaman kecil saya dulu,

PLEKKK! Rasanya nggak bisa sama.
Serius.

Mungkin karena sudah tidak berebut lagi kali ya, makanya rasa nikmatnya jadi berkurang. 
Entahlah.
Yang jelas, rasa semangkuk nasi rawon di minggu-minggu pagi kala itu tetap menjadi nasi rawon yang paling nikmat buat saya. Mungkin karena porsi yang terbatas, atau karena itu hanyalah sebuah kenangan.


Inikah yang disebut, sebuah kenangan tak akan pernah terbeli?


Ini ceritaku, mana ceritamu?



anyyeong,

Post a Comment

0 Comments