Resiko daftar NPWP online, penting untuk dipahami!


welcome November wish...

Nggak terasa ya, sudah hampir di ujung tahun. Bulan depan biasanya pada ramai nih bikin list tahunan. Resolusi, katanya.
Kadang aku juga suka ngikut bikin gitu.
Meski realitanya, banyak yang enggak berjalan dijalanin sesuai rencana atau list yang sudah ketulis.

Etapi, yang akhir tahunnya selalu sibuk ngumpulin slip setoran untuk laporan SPT tahunan siapa, nih?
Atau,

jangan-jangan malah ada yang belum tau SPT itu makanan apaan?

Yang belum tau, cung! ~haha
Aslinya, aku juga baru tau, sih. *yaa Allah ampuni hambamu yang kemana aja ini.


***


pahami cara daftar npwp online agar tak salah paham

Perlunya edukasi tentang NPWP agar wajib pajak tak gagal paham


Bahas NPWP ini kok kesannya agak berat ya buat seorang emak yang ngaku-ngaku blogger ini.

Tapi, menurutku juga, ini pelajaran berharga yang aku dapet dan merasa perlu untuk aku share agar tak ada lagi “wajib pajak” yang gagal paham macam aku ini ke depannya.
Ini berat vroh! Bilangin sama dilan, ini lebih berat dari rindunya ke milea. *halah basi.

Oke, next.
Sebelumnya, aku ingetin dulu. Ini agak panjang, ya.
Tapi tenang, aku ceritain dengan bahasa yang mudah dicerna kok, biar kalian juga nggak bosen-bosen amat.

Jadi, gini ceritanya.

Dulu, masih jaman seneng-senengnya ngumpulin kartu kredit. Iya, ngumpulin kartu kredit.

Buat apa?
Buat gaya, lah! ~haha.

Eh bukan, ding.
Awalnya sih buat berburu voucher hotel murah buat staycation. Jaman itu, aplikasi-aplikasi masih harus pakai Credit Card untuk check-out soalnya.
Buat cadangan utang dana juga kalau lagi darurat.

Udah punya sih, satu.
Namanya manusia ya, emak-emak pula, yang suka gak tahan kalau lihat promo diskonan. Ketemu sama sales kartu kredit yang nawarin diskonan ini itu kalau belanja pakai kartu kredit ini. Eaaa, lagu lama. Kepincut deh.

Ya udah, ngisi lah aku itu formulir.
Endebla endeble, salah satu syarat baru yang wajib dilampirkan adalah NPWP. Eaaa (lagi).

Saat itu aku belum punya NPWP, gajiku belum butuh NPWP sih, makanya nggak ribut amat sama NPWP.
Dan lagi, kata NPWP itu semacam sesuatu yang sangat “high” gitu. Hanya “pengusaha” yang punya, menurut pemahamanku.

*FYI, CC ku yang sebelumnya belum wajib melampirkan NPWP, cukup slip gaji (yang sedikit di-edit biar tembus). Haha ~devil.


Singkat cerita, googling lah aku tentang si NPWP ini. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Daftar NPWP bisa ONLINE, broo.

“Hmmm, ini nih yang guwa cari!” batinku pas itu.

Tanpa ba-bi-bu, langsung ngisi form sesuai data diri KTP, dengan pede penuh, dan set set set berhasil. Yesss!

Berhasil gaes!

Saat itu juga NPWP-ku langsung keluar.
Dengan informasi, si kartu NPWP bisa di ambil di kantor pajak setempat.

Nah aku, yang merasa hanya butuh si nomor NPWP saja, yaudah selow aja, nggak urusin si kartu kemana apa dimana. Lalu lupa dengan si NPWP ini bersama ditolaknya pengajuan CC yang aku buru tadi.
Apalagi sekarang sudah insaf dari "racun" Credit Card, makin lupa sama cerita itu.


Rupanya, disinilah awal cerita ini dimulai. Ini yang disebut, diam-diam memabukkan.

Ketidak pahamanku tentang NPWP itu apa, ketidak-tahuanku tentang apa saja kewajiban seseorang yang sudah memiliki NPWP, membuatku sempat shocked pas kapan lalu harus berurusan dengan NPWP lagi.
Gara-gara harus setor NPWP plus scan kartunya untuk keperluan pembayaran fee *ehem.

Dengan pedenya, datanglah aku ke kantor pajak buat minta si kartu itu. Karena merasa sudah punya NPWP, jadi hanya perlu ambil kartu saja. Begitu pikirku.
Ambil antrian dan duduk manis sambil nungguin antrian yang enggak banyak.
Hingga sampailah pada nomor antreanku, bagian ambil kartu.

Bla bla bla penjelasannya si embak-embak mungil yang nampak enggan senyum, mungkin karena sangking lelahnya menghadapi orang silih berganti.

Intinya ini telatnya udah pake banget. Basi kalau makanan, mah.
Dan untuk bisa ngeluarin si kartu ini, aku harus ke bagian apa gitu, lupa aku. Di bagian dalem pokoknya, menghadap ke si bapak A.

Oke, aku masuk ke dalam dan ketemu sama si bapak A tersebut.

Beliau bilang,
“ini ibu tidak pernah ada laporan SPT ya, bu?” kata si bapak itu.

Hmmm, kasak-kusuk lah aku. SPT eta makanan apaan, sih? ☹

Setelah dijelaskan, sebenarnya aku hanya perlu lapor slip gaji saja, dari awal daftar (akhir 2015) hingga sekarang (saat aku lapor waktu itu, mei 2019 lalu kalau nggak salah), karena NPWP ku terdaftar sebagai karyawan swasta.

Iya, pas daftar NPWP kala itu, aku masukin isian pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Yang ternyata juga, saat itu adalah masa-masa akhir aku kerja sebagai karyawan.
Hmm, rumit, kan?
Dapet slip gaji darimana? sudah pengangguran sekian lama ini.

Lalu, aku bilang lah, kalau sekarang sudah tidak bekerja alias pengangguran.

Apakah, masalah selesai?
Tentu tidakkkkkkk!

Apapun pekerjaanku saat ini, aku masih terdaftar sebagai wajib pajak dengan NPWP aktif. Karena NPWP itu berlaku seumur hidup, sodara!
Selama, masih sah sebagai warga negara Indonesia kita tercinta ini.

NPWP berlaku seumur hidup, sodara!

Dan untuk itu, tentu saja aku punya kewajiban membayar pajak dan melaporkan pembayaran tersebut dengan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) yang wajib dilakukan oleh seorang atau badan yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Terus aku kudu ottoke, kisanak?


Satu sisi, aku lagi butuh NPWP untuk kerjaan ngaku-ngaku Blogger ini, segera.
Di sisi lain, aku juga berkewajiban menyelesaikan “utang” SPT NPWP ku ini, yang notabene pada tahap “ribet”.
Sekalipun aku memilih nggak jadi butuh NPWP untuk urusan Blohher ini, aku tetep wajib ngurusin utang SPT NPWP-ku.

Baiklah, bapak itu memberi solusi untuk menyetorkan laporan SPT dan membayar kewajiban pajak dengan menghitung pendapatanku sebagai orang yang mengaku-ngaku Blogger tadi.
Hasilnya, pendapatanku jauh di bawah pendapatan “masuk akal” yang seharusnya. *fyuh, jleb!


Solusi 2.

“Apakah suami sudah punya NPWP?” tanya beliau lagi.

Karena kebetulan pak suami juga belum punya NPWP, akhirnya, solusi berikutnya adalah menghitung wajib pajak dari pendapatan pak suami dengan perhitungan wajib pajak bagi usaha kecil.

Sayangnya, dengan perhitungan penghasilan kotor/bruto sekian sekian itu, ketemulah nilai yang “tidak sedikit”, buatku, untuk sekedar mendapatkan sebuah kartu NPWP.
Nilai yang lumayan ini muncul karena tidak adanya laporan SPT selama kurang lebih 3 tahun-an tersebut.
Tentu saja ini bukan solusi yang terbaik, bukan?

Kemudian, si Bapak ganteng, cool dan agak mak-jleb kalau ngomong itu, kasih solusi terakhir. Yaitu dengan menutup NPWP ku lalu ikut dengan NPWP suami, karena, sebenernya dalam satu keluarga (KK) itu hanya wajib satu NPWP saja.

Syaratnya, suami harus punya NPWP dulu.
Kemudian aku harus mengajukan penutupan NPWP karena sudah ada NPWP suami.
Baiklah, ini solusi yang paling tidak menguras biaya sepertinya.
Hanya butuh waktu mondar-mandir lebih lama dan lebih banyak saja.

Endingnya, pak suami yang dengan sabarnya (sambil mecucu itu) menemaniku setengah hari di kantor pajak, pun bersedia langsung ngurus NPWP beliau saat itu juga.

Kelar?

Belum juga.
Dengan drama solusi panjang yang tadi aku ceritakan. Masalah kedua muncul, sistem sedang trouble, beb!
*duhhh Gusti, yaa Allah, drama apa lagi ini?

Fix, waktu yang “seolah” kebuang setengah harian tadi, nggak menghasilkan apa-apa. Dan kami harus kembali lagi esok hari. FYI, waktu itu hari kamis siang.
Besoknya, hari jumat, sistem masih belum bisa digunakan, kata petugas kantor pajak setempat. You know lah gimana drama ini bersambung.

Dengan harap-harap cemas, kami aku menunggu hari senin dan masalah bisa segera selesai.
Akhirnya, NPWP pak suami selesai juga. Alhamdulillah.

Next step adalah, mengajukan penutupan NPWP-ku dengan mengisi formulir dan menyetorkan berkas-berkas yang diminta. Lalu antri lagi di bagian loket depan ketemu sama mas-mas ganteng yang suaranya lembuttttt banget kek tepung. (sumpah deh, aku yang rada budhek plus pake jilbab lapis, bolak balik gak denger dia ngomong apaan). *Yaa Allah ampuni hambamu yang rada lemot kupingnya ini.

Apakah sudah beres?
Tentu saja tidak semudah itu, marimar!

Aku masih harus menunggu setidaknya 6 bulan untuk prosesnya, termasuk proses verifikasi dari petugas kantor pajak yang nantinya akan datang ke rumah. *(saat menulis ini pun, proses itu belum selesai).

Ribet?
Lumayan.


So, buat yang belum paham apa itu NPWP dan berencana mengurus NPWP (perorangan), kalian harus pahami ini dulu, agar nggak salah kaprah kayak aku.
Sedih akutuh. ~hiks.

Apalagi buat kalian yang berencana daftar NPWP melalui online.



NPWP itu apa sih?

NPWP itu kepanjangan dari Nomor Pokok Wajib pajak. Terdiri dari deretan angka-angka kode seperti halnya nomor KTP.


siapa saja yang wajib memiliki npwp

Siapa saja yang wajib memiliki NPWP?

Tunggu dulu, perlu nggak sih kita punya NPWP?

Hmmm, gimana ya.

Sebagai warga negara yang mengaku manis dan baik, serta jujur dan taat peraturan, NPWP ini wajib dimiliki oleh seluruh warga negara yang sudah memiliki penghasilan. Baik itu karyawan, pemilik usaha kecil (pedagang), apalagi pemilik usaha besar – jelas lah wajib kalau yang ini, mah.

Terus uangnya buat apa?

Buat pembangunan negara Indonesia kita tercinta ini.
Harusnya.
Tapi...
Ehm, nggak usah ngomongin koruptor deh, nambahin ghibah.

Intinya, dengan kita menyetor pajak, berarti kita telah membantu membangun negri ini. Sekaligus, membuktikan bahwa kita adalah umat yang tau caranya berterima kasih dan bersyukur.
Perkara ada yang suka ngutil uang rakyat, yaudah sih, masa kita batal jadi orang baik dan manis hanya gara-gara iri sama tukang ngutil, yekan?


Baca juga: Zakat - pajak berdasarkan ekonomi syariah.


Bagaimana cara mendaftarkan NPWP (perorangan)?

Ada 2 cara, online dan offline.

Online

bisa cek di https://ereg.pajak.go.id.

Kelebihannya, nggak pakai antri. Tinggal isi dan scan-scan, kelar.
Hanya saja, ini khusus perorangan-karyawan. Perorangan bukan karyawan (usaha/dagang) biasanya sulit di approve dan harus datang ke kantor pajak langsung.

Kekurangannya, tanpa pemahaman yang cukup, ini beresiko kejadian seperti aku tadi.

Offline

Alias manual. 
Yaitu dengan datang ke kantor pajak setempat dan mendaftarkan diri dengan mengisi form pendaftaran dan melampirkan copy identitas diri *(untuk badan usaha mungkin dibutuhkan dokumen terkait usahanya).

Kekurangannya, suka ada antrian, meskipun kadang nggak terlalu banyak.
Kelebihannya, kita akan diberi penjelasan mengenai syarat-syarat yang harus kita penuhi saat telah memiliki NPWP ini. Jadi terhindar dari resiko miss-understanding di kemudian hari, seperti aku tadi.

Mbaknya dengan sabar jelasin ke kami


Apa saja kewajiban bagi pemilik NPWP?

Nah, apa saja sih kewajiban kita setelah resmi memiliki NPWP ini?
Yang jelas, WAJIB BAYAR pajaknya.

Untuk karyawan dengan gaji per-tahun yang sudah diatas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak), biasanya pajak akan langsung dipotong oleh perusahaan tempatnya bekerja. Maka, karyawan tersebut hanya wajib melakukan lapor SPT dengan menyetorkan slip bukti (fisik) pemotongan pajak dari gajinya setiap bulan, selama 1 tahun. Dari Januari – Desember tahun berjalan.
Pelaporan SPT dilakukan di bulan Januari – Maret tahun berikutnya.

Nah gimana untuk karyawan dengan gaji UMR atau masih dalam PTKP?
Tetap berkewajiban melaporkan SPT tahunannya ya, meskipun tidak ada kewajiban membayar pajak. Untuk caranya mungkin bisa langsung ditanyakan ke KPP setempat atau melalui saluran online.

Karyawan hanya melaporkan bukti potong pajak dari kantor tempatnya bekerja untuk SPT.


Sedangkan untuk orang/perorangan bukan karyawan, misalnya pemilik usaha/UMKM, pedagang dan jasa atau sejenisnya yang dalam dalam setahunnya memiliki omset/penghasilan kotor kurang dari 4,8 Milyar.

Di kategori ini, sesuai dengan PP nomor 23 tahun 2018, Wajib Pajak (WP) berkewajiban membayarkan pajak sebesar 0,5% x jumlah penghasilan kotor/bruto (omset) per bulan.
Juga, tentu saja melaporkan bukti bayar pajak atau sering disebut SPT, dengan melampirkan slip transfer/pembayaran setiap bulannya yang dikumpulkan dalam 1 tahun (Januari-Desember).
Pelaporan SPT dilaporkan pada bulan Januari-Maret tahun berikutnya.

Perhitungan pajak untuk usaha kecil (omset per tahun maksimal 4,8 M):

0,5% x (bruto/omset) per bulan, dan dibayarkan per bulan.

Untuk pembayaran pajak bagi usaha kecil ini bisa melalui teller bank, kantor pos, transfer ATM, Internet/Mobile Banking, Mini ATM yang ada di kantor pajak, juga di beberapa penyedia jasa aplikasi.

Hmm, gitu.
Paham, kan?


Jadi...tentu boleh saja daftar NPWP secara online, tapi...harus paham dulu apa saja kewajibannya. Agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. 

Begitu.

Ehh, tapi kalau misalnya nggak daftarin NPWP, boleh nggak sih? Soalnya nggak butuh NPWP nih aku!

~hehe.

Boleh nggak bolehnya, sih, aku kurang paham hukumnya ya.
Yang jelas, NPWP ini pasti nantinya akan dibutuhkan juga. Misalnya, mau ngredit. Hahaha~~ ngakak so hard.

“Aku nggak mau kredit, riba, tau!”

Oke.
Tapi, mungkin kalian akan butuh saat dapet job yang fee-nya lumayan, kawan! *curhat.

Baiklah, segini dulu deh bahas pajaknya. Semoga sharing ini bermanfaat buat temen-temen yang baca. Terutama yang lagi galau mau ngurus NPWP.

Jangan lupa tinggalin jejak di kolom komentar ya genks, biar kita bisa curhat bareng. Ehh~




Sera W.





Post a Comment

0 Comments