Sudah ada vaksin corona, amankah sekolah tatap muka dimulai?

vaksin amankan sekolah tatap muka

Vaksinasi dan Sekolah Tatap Muka

Beberapa waktu lalu, saya dan seluruh wali murid di sekolah si sulung diminta untuk mengisi G-form tentang kesediaan kami perkara sekolah tatap muka bagi anak-anak kami.

Pada kondisi saat itu, meski belum ada berita tentang kedatangan vaksin dari negri China yang sempet heboh itu, saya pribadi tidak menolak tentang akan diberlakukannya sekolah tatap muka kembali. Selama, pihak sekolah juga bertanggungjawab dalam pelaksanaan prokes pada seluruh siswanya.

Dari seluruh rangkaian pertanyaan pernyataan yang diajukan, salah satunya mengenai apakah kami bersedia untuk menyediakan peralatan perang untuk menunjang keperluan protokol kesehatan tersebut. Seperti misalnya masker dan face-shield, serta mungkin hand sanitizer.

Saya pribadi sih tidak menolak untuk menyediakan hal-hal tersebut, karena toh untuk keamanan anak saya sendiri. Pun harganya sepertinya tidak terlalu memberatkan. Akan tetapi, yang namanya bocah, yekan, lalai dalam urusan prokes itu akan sangat mungkin terjadi. Yang satu ceroboh dan yang lain ikut-ikutan itu juga sangat mungkin terjadi. Disini saya sangat mengharapkan peran serta guru, wali kelas, dan segenap jajaran pihak sekolah untuk selalu mengontrol si bocah-bocah ini.

Alhamdulillah sih saya lumayan percaya kalau di sekolah si sulung ini, guru beserta staf sekolah akan bisa menjalankan "amanah" dalam menjaga anak-anak kami dengan baik dan benar perkara prokes tersebut. Tetapi, beberapa hari terakhir dimana kasus positif meningkat cukup pesat hingga jajaran gubernur DKI juga dinyatakan positif. Saya kok jadi agak "gimana" gitu ya. Meskipun kami tidak tinggal di DKI, sih.

Meskipun juga saat ini lebih dari sejuta dosis vaksin sudah mendarat di Indonesia. Bahkan kabarnya akan datang lagi di awal 2021 mendatang dan siap didistribusikan kepada seluruh warga dengan gratis sebagaimana pernyataan presiden Jokowi per 16 Desember kemarin.

Saya pribadi memang tidak terlalu paham tentang persentase ke-efektivitas-an vaksin-vaksin tersebut, yang kabarnya pemerintah Indonesia pun telah menyetujui 6 jenis vaksin Cov-19 yang akan diizinkan pendistribusiannya di Indonesia. Di mana menurut artikel berita yang beredar dan yang saya baca, 6 jenis vaksin tersebut memiliki efektivitas 70% hingga 95%. Dengan range harga yang bervariasi per dosisnya.


Baca juga:
keluh kesah sekolah daring selam pandemi

Sekolah Daring dan Kebosanan Anak

Selama hampir sembilan bulan sekolah secara daring di rumah, jenuh itu tentu sudah semakin menggeliat. Beberapa kali si sulung juga mengeluhkan dengan ritme yang terasa membosankan itu.
Jangankan anak-anak yang sejatinya di usia suka bermain, kita saja yang emak-emak yang sudah hampir terbiasa di rumah saja juga sudah sangat bosan. Bosan ngomelin anak yang pegang gadget melulu.

Lah gimana enggak. 
Jujur saya sudah kewalahan perkara ngomelin anak yang gadget non-stop ini. Dari awal yang saya memang sudah kecolongan anak saya gadget-addict, semakin kalang kabut karena rem untuk menghentikannya terasa blong.

Dulu, biasanya saya hanya memberi ijin pegang gadget di weekend saja, sabtu lepas sekolah hingga minggu sore. Sekarang, aturan itu tidak bisa saya berlakukan lagi. 
Yang awal sekolah daring saya hanya beri ijin pegang gadget di jam efektif sekolah saja, kenyataannya di sela-sela jam pelajaran dimana tugas dan materi belum diberikan oleh guru mapelnya, anak saya malah sibuk nonton Naruto *tepok jidat*. Begitu ketahuan dan gadgetnya akan saya ambil, ternayata tugas dari guru mendadak hadir.

Begitu juga saat siang atau sore di luar jam pelajaran sekolah. Alih-alih tugas, PR, dan semacamnya, saya pun kembali tidak bisa menyita gadget tersebut. Padahal setelahnya, atau mungkin di sela-selanya si anak pastilah kembali nonton atau bahkan main game. 
Saya kemana?
Saya sudah sibuk dengan adiknya, bapaknya, urusan dapur dan urusan lainnya. Kan nggak mungkin juga dong saya bisa 24 jam melototin anak sulung saya tok.


Wacana Sekolah Tatap Muka dan Kesiapan Kita

Meskipun masih terasa agak was-was, pada dasarnya saya pribadi tidak terlalu keberatan perkara wacana sekolah tatap muka yang akan mulai diberlakukan per Januari 2021 mendatang. Selama semua pihak benar-benar berperan serta. Ya orangtuanya, ya sekolahnya, maupun pemerintah setempat. Tentu saja mencakup sarana dan pra-sarana menyangkut sekolah tatap muka ini.

Kalau hanya sekedar menyiapkan masker kain dan face-shield saja, mungkin para orang tua tidak akan keberatan. Plus tambahan ngomelin wanti-wanti anak sampe berbusa-busa sebelum berangkat sekolah.
Tapi berita terbaru, saya malah mendapati diharuskan tes swab. Helloooowwwww bapak mentri yang ganteng, saya agak sedih lho mendengar berita ini. Srius! Kecuali kalo test swab-nya gretongan ya pak, hehe.

Atau bagaimana kalau sekolah tatap muka-nya ditunda dulu sampai urusan vaksin selesai?
hmmm, tapi sepertinya itu akan menjadi kelamaan ya?


efektivitas vaksin corona
Ilustrasi vaksin Covid-19 (SHUTTERSTOCK/solarseven)


Sedikit Mengenal Vaksin Corona

Seperti yang sudah saya singgung di atas, kabar mengenai kedatangan kontainer yang berisi lebih dari sejuta dosis vaksin corona. Lantas apa saja dan bagaimana sih vaksin corona ini?

Menurut artikel dari beberapa portal berita terpercaya yang saya baca, setidaknya ada 6 jenis vaksin dari produsen berbeda yang akan diijinkan peredarannya di Indonesia. Produsen vaksin-vaksin tersebut antara lain:
  1. PT Bio Farma (Persero)
  2. Astra Zeneca
  3. China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm) 
  4. Moderna 
  5. Pfizer Inc and BioNTech 
  6. Sinovac Biotech Ltd
Ke-enam jenis vaksin tersebut disebutkan memiliki efektivitas yang berbeda, namun hampir kesemuanya harus disuntikan lebih dari sekali. Meski pemerintah telah resmi mengumumkan tentang vaksin gratis untuk seluruh rakyat Indonesia, namun masalah pendistribusian serta SDM yang mumpuni untuk bisa menyuntikkan vaksin dengan benar masih menjadi kendala tersendiri. Disebutkan juga bahwa vaksin harus disimpan dalam suhu minus derajat celcius. Tentu semakin menambah panjang daftar PR bagi pemerintah urusan vaksinasi ini.

Mengutip dari halaman halodoc.com sebagai salah satu situs kesehatan terpercaya, diantara ke-enam jenis vaksin corona tersebut salah satuya adalah vaksin Pfizer Inc. and BioNTech. Yang mana, meski belum rampung uji klinis fase ke-3, Pfizer Inc. and BioNTech mengklaim bahwa vaksin milik mereka memiliki efektivitas hingga 90%.

Sayangnya, dari rentang usia relawan uji klinis yang dilibatkan yaitu 12-85 tahun, pada relawan usia renta vaksin tidak bekerja secara maksimal. Hal itu kemungkinan disebabkan karena tubuh pada orang lanjut usia tidak selalu dapat merespon secara efektif terhadap infeksi alami.
Namun pihak Pfizer Inc. and BioNTech mengatakan akan mengkaji data tersebut lebih detail kembali mengenai faktor apa saja yang mungkin menjadi penyebab utamanya.

Harapannya sih, proses vaksinasi dapat segera terealisasi dengan lancar dan dapat menunjukkan hasil yang efektif ya. Tapi juga jangan lengah dan tetap patuhi protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak.
Semoga kondisi segera membaik dan habis gelap terbitlah terang.

Nah, jadi gimana nih? 
Kehadiran vaksin corona apakah membuat para bunda lebih yakin untuk melepas sang buah hati untuk bersekolah tatap muka kembali?




안녕!
sera wicaksono

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Syukurnya sekolah anak2ku msh blm mulai tatap muka, jd online lagi besok. Aku bersyukur sih mba. Gpp deh walo mamak makin Sutris ngajarin :p. Yg ptg mereka di rumah dan bisa aku awasi. Kalo di sekolah aku ga yakin mereka udh Patuh protokol. Lah kalo anaknya udh SMP SMU, mungkin udh ngerti ya mba. Lah ini masih SD kls 2 Ama Tk -_- .

    Yg pasti aku sendiri bakal LBH confident anak2ku sekolah lagi kalo sudah vaksin sih. Sebelum vaksin, ga laah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, di tempatku juga ditunda sampai kemungkinan maret. Tapi masih lihat sikon juga. Kalau anakku yg sekolah sih sudah kls 2 SMP, jd masih gak terlalu was-was (meskipun ya gak sepenuhnya rela sih, hehe). Tapi kalau TK atau SD emang resikonya lebih tinggi karna bocah umur segitu masih blm bisa dilepas gitu aja.

      Semoga urusan vaksin segera kelar ya, dan semua kembali normal seperti sedia kala.

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Yuk ngobrol di kolom komentar :)
Link Aktif dan SPAM akan dihapus.
*Bijak dalam berkomentar menunjukkan kualitas diri*

Happy reading other article....