Peran Sisternet dalam mentoring perempuan preneur di Bali untuk industri digital 4.0

Bisnis itu warisan, bukan sekedar jualan, apalagi mainan. Bisnis itu harus terukur, supaya bisa diatur. -tyas.windarti-


peran perempuan dalam industri 4.0

Peran Perempuan Dalam Industri 4.0


"siapa disini yang suka main sosial media?" kelas dibuka dengan dialog ringan seperti ini.
spontan hampir keseluruhan peserta tersenyum, bahkan ada yang tertawa kecil.

"siapa disini yang mau, modal pulsa 100 ribu bisa dapet omset 100 juta?" 

pertanyaan berikutnya lebih berbobot lagi. berat ini. nggak mungkin ada yang nolak dapet omset 100 juta dengan modal pulsa 100 ribu doang. ya kahn?

Pasti semua mau dong?
Sepakat, ya?

ini acara MLM, ya?
Bukan!

Tenang, ini workshop keren yang dipersembahkan oleh Sisternet powered by XL Axiata dan dijembatani oleh Blogger Crony Community, untuk perempuan Indonesia dalam meningkatkan Ekonomi berbasis digital di Industri 4.0 abad ini.

Wuishh, mantep banget ini.
Iya, donk!

Makanya, yuk simak sampai habis karena, banyak banget ilmu yang aku dapetin dari workshop ini.


Apa itu Revolusi Industri 4.0 ?

By the way, sudah tahu belum sih sista, Industrial Revolution four point O alias Revolusi Industri 4.0 itu apaan?

No worries, bebs! aku juga baru tahu. haha~

Aku ceritain sedikit tentang sejarah industri mulai dari generasi 1.0, ya.
Kebetulan kemaren aku kami dapet bocoran dari mba Agnes - XL Axiata, yang memberikan penjelasan singkat tentang sejarah dalam dunia perindustrian ini.

Jadi, revolusi industri ini dimulai sejak ditemukannya mesin uap pada tahun 1776 sehingga menjadikan proses produksi lebih efisien ketimbang masa sebelumnya yang hanya mengandalkan tenaga otot manusia atau tenaga alam.
Sedangkan Revolusi Industri 2.0 dimulai lama setelah industri 1.0 dimulai, yakni sekitar 2 abad setelahnya. Setelah ditemukannya listrik dan mesin ban berjalan atau conveyor belt pada tahun 1913.

Jika generasi 1.0 dan 2.0 lebih fokus terhadap proses produksi skala besar, revolusi industri generasi 3.0 lebih fokus untuk memudahkan pekerjaan manusia dalam menjalankan mesin-mesin produksi tersebut, termasuk menyimpan data dokumen dengan ditemukannya komputer dan sistem robotic.
Hal ini sekaligus menjadi cikal bakal generasi 4.0.

Nah saat ini, kita sudah masuk di babak awal generasi Industri 4.0, yaitu era digital and cyber, dimana hampir semua pekerjaan bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan adanya inovasi-inovasi baru seperti; IoT (Internet of Things), Big Data dengan Cloud, AI (artificial intelligence), yang tentunya semua harus terkoneksi dengan jaringan internet yang lebih canggih dan lebih cepat dari era sebelumnya, XL Axiata dengan XL Business Solution nya punya nih produk untuk menunjang kebutuhan IoT tersebut.

Kalau selama ini kita sudah dimanjakan dengan adanya remote control, nyalain tv atau AC nggak pakai manjat keatas.
Di era 4.0 ini, kita bakalan lebih dimanjakan lagi, nyalain AC kamar bisa dilakukan bahkan saat kita masih dalam perjalanan pulang kerja. Sehingga saat kita sampai di rumah, kondisi ruangan sudah sejuk. Ini adalah contoh dari IoT (Internet of Things).

atau kecanggihan teknologi lainnya adalah, nyalain dan matiin lampu yang biasanya hanya mengandalkan saklar saja, kini sudah dimudahkan dengan remot bahkan sensor suhu tubuh manusia. AC yang bisa naik turunin suhunya sendiri menyesuaikan suhu disekitarnya, ini adalah kehebatan tehnologi AI.
Belum lagi, kulkas yang ada layar touch screennya segede gaban buat searching resep masakan. Dan banyak deh.

hmmm, mungkin kalian ada yang masih bingung karena di Indonesia saat ini masih belum lazim, tapi, yang suka nonton drakor pasti paham. ~hihihi (terbukti, nonton drama juga menambah wawasan kan gaes)

cek disini: Kdrama Melt Me


Sisternet sebagai Rumah Digital Perempuan Indonesia

Bicara industri 4.0, tentu saja bicara tentang dunia digital.
Sejak ditemukannya ponsel pintar atau smartphone, yang semakin kesini semakin pintar saja, kancah dunia digital nyaris berada di puncaknya.

Ponsel kini tak hanya digunakan untuk urusan komunikasi melalui sambungan telepon saja, lebih dari itu, ponsel bisa digunakan untuk banyak hal seperti transfer uang, pembayaran dengan dompet digital, belanja online, pesan kendaraan online, pesan makanan, bersosial, dan banyak lagi.

Menurut survey, data penggunaan internet berdasarkan gender menunjukkan hasil yang nyaris seimbang antara pria dan wanita. Artinya, kaum perempuan yang dulunya hanya urusan dapur, kini juga punya ruang yang sama dalam mengakses internet.

Sedangkan berdasarkan pemanfaatnya dalam bidang ekonomi, internet juga banyak digunakan untuk cek harga, belanja online, transaksi perbankan, juga pencarian lowongan pekerjaan.

survey pengguna internet

Kalau dilihat dari grafik diatas, prosentase belanja online dan jualan online masih sangat jauh, belum seimbang.
Artinya, peluang untuk jualan online masih terbuka lebar, mengingat daya beli belanja online berada di angka 2x lipat dari yang berjualan.

Dalam hal ini, Sisternet powered by XL Axiata, ingin turut serta mengajak para perempuan untuk tidak hanya sekedar menggunakan sosial media dan internet sebagai (pihak) konsumen, yang berbelanja. Tetapi bagaimana kita juga bisa memanfaatkannya sebagai lahan berjualan, menjadi pihak supplier.
yang tentunya dalam hal ini dapat juga meningkatkan perekonomian, keluarga bahkan negara.

Sebagai rumah digital perempuan, Sisternet yang memiliki tagline Share, Care, and Inspire ini menggelar workshop kelas #LiterasiDigital yang diselenggarakan pada hari Sabtu 16 November kemarin.
Alhamdulillah aku juga mendapat kesempatan untuk bergabung dan mengikuti kelas bertajuk Sister UKM Go Online yang digelar selama 3 jam di Ruang Pertemuan Balai Diklat Industri Denpasar ini.

Gelaran workshop yang diselenggarakan oleh Sisternet powered by XL Axiata dan dijembatani oleh Blogger Crony Community ini dihadiri oleh sekitar 60 peserta yang kesemuanya adalah perempuan-perempuan keren dengan berbagai jenis usahanya masing-masing, yang tergabung dalam komunitas UKM Bali, Warrior.

Hadir sebagai pembicara, sista Adelia Panjaitan dari Sisternet - XL Axiata yang mengusung Peran perempuan dalam meningkatkan ekonomi digital.
Hadir juga sista ibu, Tyas Windarti selaku CEO Bayi Banget Hijab yang berbagi ilmunya tentang Financial Planning untuk UKM, yang membuatku dan mayoritas peserta lainnya tersedak dengan banyaknya kesalahan-kesalahan kami dalam mengatur keuangan selama ini.

Apa saja sih kesalahan yang sering kita lakukan sebagai "menteri" keuangan keluarga sekaligus yang juga ngakunya "owner" usaha ini?

Baca terus ya, pasti aku jelasin kok.

Foto bersama: Narasumber, Panitia dan Blogger genk


Kontribusi Perempuan dalam Meningkatkan Ekonomi berbasis Digital

Emansipasi wanita, akan mengingatkan kita pada ibu besar kita RA Kartini, sosok pahlawan kemerdekaan perempuan yang juga sebagai cikal bakal bagaimana di era ini perempuan (Indonesia) juga memiliki peranan penting dalam memajukan ekonomi.

Tak hanya ekonomi skala keluarga, bahkan, kini banyak perempuan-perempuan preneur terlahir dan menciptakan banyak lapangan pekerjaan, yang tentu saja hal ini dapat berdampak pada peningkatan ekonomi bangsa.

Bahkan sekedar urusan jualan cireng beku saja, banyak wanita yang notabene awalnya hanyalah ibu rumah tangga, kini menjadi woman-preneur dengan berkembangnya usahanya tersebut menjadi sebuah lahan bisnis yang menggiurkan.
Yang pada akhirnya membuka lapangan kerja untuk tim-nya. Misalnya admin, packing, ekpedisi, dll.

Apakah bisnis-bisnis tersebut berawal dari modal besar?
Nyatanya, banyak sisterpreneur tersebut mengawalinya hanya dari pulsa quota internet saja.

Balik lagi pertanyaan diatas tadi, pulsa 100 ribu jadi omset 100 juta, bisa banget.

Mungkin sista yang suka belanja online, pasti paham ya, siapa itu re-seller atau drop-shipper. Gampangannya, sales deh, atau bahasa kerennya freelancer marketing. asekkk.

Sebagai drop-shipper ini, kita tak perlu merogoh kocek dalam untuk sebuah investasi modal usaha dengan nominal sekian besar.
Cukup seporsi paket quota internet yang bisa kita gunakan untuk menyebarkan "informasi pembelian" suatu barang A B C D E dan seterusnya.
kasarannya beber lapak. ngasong dari sosmed ke sosmed.

Nah, perkara posting di jaringan sosial media, tentunya tak lepas dari yang namanya internet.
Don't be worried, gaes!

XL Business Solution dari XL Axiata telah menyiapkan produk-produk unggulannya untuk mendampingi kita (((kita))) para penggiat usaha online.
Produk-produk dalam lini XL Business Solution ini memberikan beragam pilihan untuk kebutuhan bisnis kita tentunya.

Dengan slogan "Komunikasi Bisnis Tanpa Batas", XL Business Solution mensupport para penggiat UKM perempuan dengan menyediakan "satu kartu, banyak solusi".
Harapannya, dengan support-support tersebut, perempuan Indonesia akan semakin memaksimalkan penggunaan internet untuk hal yang bermanfaat dan menghasilkan.

Ehh tapi, dagangan udah laku nih, duitnya udah jadi apa aja? usahanya udah jadi segede apa nih sekarang?

Ini sentilan dari seorang CEO Bayi Banget Hijab yang cukup menggelitik.

"apakah sebagai owner, kalian pernah digaji oleh usaha kalian?" tanya ibu Tyas ini lagi, sekonyong-konyong banyak peserta yang melongo.

"what, gaji?"
hehe.

Dalam kesempatan ini, hadir juga sista ibu Tyas Windarti selaku CEO Bayi Banget Hijab.
Wanita yang akrab disapa momski Tyas ini nggak pelit membagi ilmunya tentang Financial Planning untuk UKM, lho.

Dari tadi, ini kan yang ditunggu-tunggu?


Financial Planning untuk UKM

Diawali dengan memberi "petuah" untuk kami para pemula, momski Tyas Windarti mewanti-wanti jangan sampai kita salah start dengan 3 NO berikut ini.

> No Need Product
artinya, hindari menjual barang yang tidak dibutuhkan pasar. barang yang tidak diminati, artinya tidak memiliki daya beli. tentunya, hal ini akan merugikan diri sendiri.

> No Cashflow
Jelas, tanpa ada uang sedikitpun sebagai modal usaha, tentu saja bisnis apapun tidak akan berjalan. Pulsa atau quota, tentunya juga butuh biaya kan?

> No Team
Jika ingin bisnis yang tumbuh dan berkembang, pastinya kita butuh yang namanya Tim, karena, tenaga kita pasti terbatas. Dan untuk menghasilkan omset yang besar, membutuhkan tenaga yang tak kecil. Cara tepat menyiasatinya adalah dengan menggunakan banyak tenaga sebagai Tim.


Selain memberi petuah tersebut, momski Tyas juga sangat menekankan pentingnya pencatatan dalam perencanaan keuangan jika ingin bisnisnya terus berkembang.

"halah, masih jualan kecil-kecilan ini, ngak usah dicatet deh"
No! tetep harus dicatat, jika ingin jualan kecilnya berkembang mejadi bisnis besar, tentunya.

"nggak ada waktu bun, anakku rewel, harus masak nyuci ini itu endebla endeble"
TETEP ya! pencatatan itu wajib hukumnya kalau mau serius menjadikan usaha ini sebagai bisnis.

Karena, pencatatan ini berfungsi sebagai Helicopter View kita.

Helicopter view maksudnya, kita bisa mengetahui degan jelas kondisi usaha kita dari atas, seperti kita melihat dari helicopter.
Sebagai mapping usaha, sebagai alat ukur, dan sebagai contekan untuk mengambil keputusan.

Sehingga kita tahu persis apa yang kita butuhkan untuk mengembangkan usaha kita.
Misalnya mau belanja bahan apa, berapa banyak, berapa maksimal harga yang bisa kita jangkau, dan seterusnya dan seterusnya.

Urusan begini ini, kita nggak diijinkan lagi menggunakan ilmu "kirologi" alias ilmu kiro-kiro atau kira-kira. Karena, bisa jadi akan menyebabkan terjadinya penumpukan stok atau bahan yang tidak penting dan justru kekurangan stok yang penting dan fast-moving, misalnya.

Karena stok sama dengan UANG.

Stok memang dibutuhkan, namun terlalu banyak menimbun stok atau bahan baku juga tidak baik untuk kesehatan keuangan usaha kita, sebab, sekali lagi, STOK = UANG.

Jadi, belanjalah stok atau bahan baku sesuai kadar kecepatan moving product tersebut.

Dengan adanya pencatatan ini, kita juga bisa nih monitoring jika terjadi over budgeting atau kebocoran pendanaan.
Begitu juga dengan pencatatan tentang segala pembelian dan pengeluaran yang akan berguna untuk menentukan nilai HPP.

Oiya, pencatatan database seperti alamat, usia dan gender juga diperlukan, lho. Ini akan sangat berguna untuk menghitung demografi, yang nantinya bisa digunakan untuk mapping usaha juga.

Terus, gimana soal gaji Owner tadi?

Iyes, kenapa "owner" perlu digaji? Alasannya jelas! Biar nggak mengganggu cash-flow usaha.

"Omsetku masih kecil, sis"

hehe. Tetap saja ya, owner harus digaji. Supaya, ngambilnya nggak kebablasan. Haha~

Dari mana dananya?

Gaji owner bisa diambil dari PROFIT atau bisa juga ditambahkan dari nilai HPP, terserah mana yang lebih memungkinkan.

Berapa?

Nah, ini nih yang kemarin sempet membuatku bertanya-tanya. Berapa sih, normalnya gaji owner ini?

Jawabannya sih, relatif, tidak ada aturan pakemnya.
Tetapi, tidak boleh over, karena tentu saja akan menggangu cash-flow, dan pada akhirnya tidak akan membuat peningkatan bisnis kita ke depannya.

Nah, dari diskusi tersebut, momski Tyas memberi bocoran limit maksimal untuk prosentase gaji owner ini.
Menurut beliau, untuk usaha yang masih kecil atau baru, dimana omset dan profit juga belum banyak, maka gaji owner tidak boleh lebih dari 35% dari PROFIT. nah, lho.

Kalau begini kan jelas, berapa nominal yang boleh diambil owner untuk gaji ini.
Jadi, nggak ada lagi ya comat-comot profit usaha untuk keperluan pribadi. ~ehhe.


So, buat kalian temen-temen, perempuan-perempuan hebat, yuk terus berkarya dan menciptakan sesuatu yang positif. Keep smile and happy always...

Thank you so much buat Sisternet, XL Axiata dan Blogger Crony yang telah menjembatani kegiatan workshop ini, semoga menjadi berkah untuk kita semua. Aamiin.


#MakBloggerBali
Narsis dulu sebelum makan siang dengan nasi besek




Sera W.



Post a Comment

7 Comments

  1. Era industri 4.0 mendorong kaum perempuan memanfaatkan internet semaksimal mungkin ya mbak...karena tuntutan dunia digital dimana semua serba internet. Tentunya aktivitas kita semakin terbantu dan menjadi mudah. Kalau semua serba mudah itu artinya terbuka kesempatan luas bagi kita untuk membuka usaha baru. Karena untuk menjadi pegawai itu tak perlu susah keluar rumah, pergi ke kantor, pakai baju kerja atau nenteng tas yang berat. Cukup di rumah berbekal henpon dan kuota internet, usaha atau bisnis yang menjanjikan bisa tetap jalan. Workshop ini sangat menginspirasi kaum perempuan untuk mengembangkan kemampuan dan bakatnya....semoga akan ada workshop seperti ini lagi di Bali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, hehe. Makasih kunjungannya mba yuni *hug hug

      Delete
  2. Di era ini seharusnya tidak ada orang nganggur ya? Kalau nganggur itu ya karena mereka yang milih nganggur.
    Kita, perempuan sih harus bisa menjadi bagian ekonomi digital.

    sek asek......foto paling bawah mencuri perhatianku, hehehe

    ReplyDelete
  3. Saya udah training soal 4.0 ut kerjaan kantor tapi baru tau proses 1.0 dst dari sini. Trims deh mba. Jadi gak gagap besok2 kalo ada yang nanya kok uda sampe empat aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih, tadinya aku juga gaau 4.0 itu gimana ceritanya. hehe

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca artikel sampai selesai. Jangan lupa tinggalin jejak di kolom komentar sesuai artikel dengan bahasa yang baik dan sopan.

Link Aktif dan SPAM akan dihapus.
NO WAR!

Happy reading other article....