Melahirkan dengan bedah sesar saat pandemi? Ini Pengalaman Saya

lahiran normal atau caesar

Sebaiknya pilih melahirkan normal atau caesar?

Kala pandemi seperti ini, ternyata banyak ibu hamil yang memilih melahirkan secara caesar. Hal ini juga dibenarkan oleh Hector Chapa, peneliti di Texas A&M University. Dari laman Haibunda.com yang mengutip pernyataan Chappa dari Generocity tersebut, dituturkan bahwa di tengah pandemi ini para ibu hamil banyak yang menginginkan persalinan caesar. Meskipun hal ini tidak dianjurkan oleh Chapa karena dapat membuka peluang penularan virus baik pada tenaga medis, ibu, maupun bayi.

Kenyataan yang saya temui pun demikian. Saat saya melahirkan anak ke-tiga beberapa pekan lalu, rata-rata pasien persalinan barengan saya mayoritas melalui bedah sesar. Lalu bagus mana sih melahirkan normal atau caesar?

Berikut cerita drama pengalaman saya melahirkan normal dan caesar untuk ketiga anak saya.


Baca juga:


Pengalaman Melahirkan Secara Normal atau Pervaginam

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama

Saya melahirkan anak sulung saya di usia yang relatif muda. Masih minim pengetahuan dan pengalaman tentunya. Meski begitu, Alhamdulillah saya melahirkan secara spontan atau normal pervaginam. Pun waktu yang dibutuhkan dari bukaan pertama hingga persalinan tidak terlalu lama. Meskipun sempat terjadi drama perdarahan yang bikin bu bidannya agak kalang kabut, sih.

Karena kondisi saya yang minim pengetahuan (baca: bego), jadi keadaan tersebut tidak membuat saya panik sedikit pun. Padahal saat itu saya melahirkan di rumah bidan praktek yang letaknya pun di desa dan jauh dari rumah sakit, apalagi rumah sakit yang memadai. Keadaan itu pun diperparah dengan tanpa adanya asisten bidan. Jadi bu bidannya sendirian lho gaes, Cuma bareng paksu aja. Plus tidak ada orangtua atau pun mertua yang menemani kami meski berada di kampung saya. Karena ibu saya mendadak sakit hari itu.

Namun Alhamdulillah semua berakhir baik, pendarahan segera berhenti dan setelah observasi 2 jam, saya pun boleh pulang ke rumah. Sayangnya, ternyata saya butuh 2 minggu hingga benar-benar bisa beraktivitas secara normal, termasuk berjalan. Karena sisa benang jahitan dari robekan perineum benar-benar menusuk. Namun yang bikin saya down bukan itu, melainkan berbagai omongan "julid" dari circle saya. Salah satunya ada yang mengatakan saya manja, karena beliau merasa sehat dan mampu beraktivitas normal setelah 3 hari pasca lahiran. 

Wahai bunda, baik persalinan normal maupun sesar, sebaik-baik pemulihan yang baik adalah dalam keadaan tanpa “julidan”.


Pengalaman Melahirkan Anak Kedua

Berjarak lebih dari 10 tahun dengan si sulung, kelahiran anak kedua saya terbilang penuh drama. Flek dan bukaan awal menghabiskan 2 hari, bisa dibilang kontraksi palsu. Jadi kontraksi hanya terjadi sebentar saja lalu berhenti. Saya paksa untuk jalan-jalan namun tetap saja tak membuahkan hasil. 

Keesokan harinya, kontraksi yang seolah-olah sudah bertambah, kenyataan pahitnya, berkali-kali menahan sakitnya cek bukaan hasilnya hanya mentok di bukaan 7 hingga hampir malam. Jadi mau tidak mau, saya harus segera dirujuk ke RS untuk menjalani persalinan caesar. Sejujurnya kondisi ini membuat saya cukup trauma.

Lucunya, tepat saat mobil kami berhenti di depan UGD RS tersebut, ketuban saya pecah dan bukaan menjadi penuh. Yes, yang tadinya sudah dirujuk untuk persalinan secara SC harus beralih menjadi persalinan normal.

Antara sedih dan bahagia sih, sedihnya karena persalinan normal di RS tidak bisa klaim BPJS sehingga kami harus mencari pinjaman karena persediaan kami hanya untuk persalinan di bidan.

Proses pemulihannya juga sekitar dua minggu. Namun kali ini saya lebih enjoy, karena saya sudah jauh dari circle yang penuh kejulidan tadi. Meskipun semua serba harus kami kerjakan sendiri. Hehe.

penglaman melahirkan secara operasi caesar

Pengalaman Melahirkan Secara Operasi Caesar (SC)

Awalnya kami sepakat cukup dua anak saja, karena persalinan tentu membutuhkan segala hal yang “extra”. Ya materi, ya tenaga, ya mental, ya kesabaran, semua butuh extra pokoknya. Terlebih usia saya tak lagi muda, tentu banyak sekali hal-hal yang harus kami pertimbangkan.

Qadarullah, Allah memberi kami rezeki anak ke-tiga di usia saya yang sudah diatas usia aman kehamilan. Namun saya menikmati proses kehamilan ini dengan sepenuh hati. Alhamdulillah, suami dan anak-anak saya memberi support yang tak terbatas. 

Dan Alhamdulillah 3 pekan lalu saya resmi menjadi mamak 3 anak. Usia yang tak muda ini memberi saya pilihan untuk menjalani operasi sesar, dan sekaligus melakukan ikat ovarium yang sering disebut steril ikat.

Iyes, dalam hukum islam steril dianggap sebagai pengebirian dan itu haram hukumnya. Sedangkan untuk steril ikat (bukan potong) masih dalam pro dan kontra. Namun atas pertimbangan kesehatan dan keamanan kedepannya, saya mengikuti hukum hal ini masih diperbolehkan. Mengingat usia dan resiko kehamilan pasca sesar.

Suami saya bertanya, sakit mana melahirkan normal atau sesar?

Sambil tersenyum kecut menahan nyeri, saya jawab, sama sakitnya.

Bedanya, persalinan secara spontan atau normal sakitnya di depan, apalagi persalinan anak kedua membuat saya cukup trauma saat cek bukaan. Sedangkan operasi sesar sakitnya akan terasa setelahnya. 

Proses pemulihannya juga lebih lama, untuk saya. Apalagi sesar yang saya jalani ini sekaligus pengikatan ovarium yang dalam asumsi saya pasti akan ada rasa sakit sendiri pasca pengikatan selain dari luka robekan perut dan rahim.

Di minggu ke-tiga pasca operasi, saat ini saat saya menulis ini, kondisi saya belum benar-benar pulih, lho. Padahal, beberapa barengan saya yang melahirkan sesar di hari yang sama sudah beraktivitas normal.

Saya manja? Hmmm, menurut suami saya, kondisi orang itu berbeda-beda, jadi jangan disamakan. Yang penting menunjukan progres sembuh, itu sudah cukup. Alhamdulillah, paksu sangat mengerti dan sabar merawat saya juga bayinya, sendirian. Karena kami memang tinggal sendiri.

Jadi sekali lagi, baik memilih melahirkan secara normal atau pun sesar, yang terpenting adalah kondisi tanpa “julid” saat proses pemulihannya. Karena proses pemulihan ini sangat penting agar ibu pasca melahirkan tidak menjadi depresi dan rentan baby blues.


Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum operasi caesar

Sedikit bocoran buat bunda yang baru pertama kali akan melakukan operasi caesar terencana, berikut hal-hal yang harus bunda persiapkan.

Siapkan semua dokumen yang dibutuhkan, terlebih jika ingin menggunakan BPJS atau asuransi kesehatan lainnya.

Cukur bersih bulu kemaluan setidaknya 1 hari sebelum persalinan. Bisa sih dicukurin sama perawat atau bidannya, tapi agak gimana gitu ya.

Siapkan diapers dewasa, sebaiknya pilih yang model perekat. Untuk persalinan caesar, bunda tidak perlu membeli pembalut bersalin ya, karena nggak kepakai. Setelah bisa lepas diapers, kita bisa menggunakan pembalut biasa.

Siapkan kain panjang minimal 2 lembar, ini digunakan pasca operasi karena nggak mungkin bisa langsung pakai baju.

Siapkan baju longgar seperti daster, bisa bunda gunakan setelah kateter dilepas. Atau bisa bunda gunakan untuk bagian atas agar tidak kedinginan.

Siapkan keperluan untuk menyambut kelahiran bayi seperti baju, popok tali, kain bedong, dan selimut. Baby mitten dan kaos kaki juga boleh disiapkan. Namun untuk kaus kutang dan gurita bayi biasanya tidak dipakaikan sama bidan/perawatnya, jadi bisa di-skip saja dan gunakan jika sudah di rumah bila ingin menggunakannya. 

Yang terakhir siapkan mental dan jangan lupa berdoa agar semua berjalan lancar.


Bisakah melahirkan normal setelah operasi caesar?

Menurut artikel yang saya baca di salah satu portal kesehatan online, persalinan normal setelah caesar atau VBAC (vaginal birth after caesar) justru dianggap lebih aman. Meski demikian, ada hal-hal yang harus diperhatikan salah satunya adalah jarak kelahiran.

Kebetulan salah satu teman saya pernah menjalani proses VBAC tersebut dan alhamdulillah berjalan baik. Yang terpenting, konsultasikan secara detail dengan dokter kandungan yang bunda pilih sebagai penolong persalinan bunda nantinya.



안녕!


Next Post Previous Post
3 Comments
  • Irawati Hamid
    Irawati Hamid 03 Juli, 2021

    saya pun kemarin melahirkan anak ketiga di masa pandemi ini, Mba, cuman bedanya saya lahiran secara normal

    • Sera Wicaksono
      Sera Wicaksono 04 Juli, 2021

      Wah samaan kita, selamat atas kelahirannya ya 🤗

  • Siska Dwyta
    Siska Dwyta 04 Juli, 2021

    Maa syaa Allaah saya kira teh Sera ini mamak beranak satu ternyata sudah dikaruniai tiga buah hati ya dan umur juga udah bukan kepala dua lagi *eh..

    Alhamdulillaah juga ya Mbak sudah dikasih pengalaman melahirkan yang sangat berharga sekali dan juga sudah rasain keduanya baik spontan maupun sesar. Jadi bisa membedakan mana proses yang lebih 'enak'

    Eh tapi emang benar, baik pervaginam maupun melahirkan di meja operasi sama-sama sakit dan sama-sama melalui proses perjuangan yang tidak mudah.

    Btw selamat atas kelahiran anak ketiganya. Sehat2 ibu dan bayinya :)

Add Comment
comment url