Eliminasi hepatitis bareng kemenkes-RI, netizen cerdas harus sadar sehat sejak dini


cara mencegah dan mengobati penyakit hepatitis

Baru-baru ini, jagat media dihebohkan dengan KLB (Kejadian Luar Biasa) tentang penyakit Hepatitis A yang mewabah di salah satu kota di Jawa Timur.
Sebelumnya, netizen juga beramai-ramai menyebarluaskan tentang hadirnya flu monyet, flu babi, demam chikungunya hingga demam video pamit, ehh. *fokus mak fokus!

Sebegitu mudahnya sebuah berita tersebar secara meluas, tidak perduli itu berita benar atau salah, jika sebuah berita telah berada di tengah-tengah ‘tangan’ Media Sosial maka semakin besar pula kesempatan berita tersebut tertelan mentah oleh pembacanya.

Akibatnya, kepanikan dan keresahan masyarakat awam pun muncul dan meluas hingga dapat mengganggu ketenangan publik.

Nah kita, yang ngakunya sebagai netizen cerdas nih, atau katanya sebagai millenials bebas hoax, yuk mari membiasakan diri untuk hanya menyebar konten-konten positif dan biasakan SARING sebelum SHARING!

Mulai sekarang STOP hoax hanya sampai di tanganmu saja ya dear, SAMPAH-kan HOAX agar tak semakin banyak korban provokasi.

Karena kita, Netizen Cerdas!


Suka Nyinyir Unfaedah di Media Social, Baca ini Deh!

***



Jangan Biarkan Hepatitis Merenggut Kebahagiaanmu!


mencegah penularan hepatitis dari ibu hamil ke bayi baru lahir


Pada Rabu 31 Juli 2019 lalu, bertempat di Grand Palace Hotel Sanur, kami dari komunitas Blogger bersama dengan Netizen dan juga Mahasiswa Kesehatan di Bali mendapat kesempatan berharga untuk menghadiri gelaran acara dari serangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Hepatitis Sedunia ke-10 yang jatuh pada 28 Juli.

Dalam hajatan Temu Blogger yang dimediatori oleh Komunitas Blogger Crony kali ini, sejumlah pakar kesehatan dari KemenKes RI hadir untuk memberikan wawasan dan edukasi seputar penyakit Hepatitis.
Sekaligus menggandeng kami sebagai penggiat media sosial dan internet untuk bersama-sama menyebarkan pengetahuan tentang pentingnya mencegah penyakit Hepatitis sejak dini.


Setelah acara dibuka oleh ibu drg. Widyawati, MKM. selaku Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, gelaran Temu Blogger Kesehatan bareng Kemenkes RI ini dilanjutkan dengan pemaparan tentang apa sih penyakit Hepatitis itu? Gimana penularannya? Gimana cara ngobatinnya? Dan seterusnya dan seterusnya.

Mau tau kan gimana caranya mencegah dan menghindari penularan penyakit Hepatitis ini?

Siapin segelas es jeruk manis dulu ya genks, sekalian pisang gorengnya juga boleh. Karena perut kenyang, pikiran tenang, hehe. *nggak ada hubungannya sih ini.

Oke, lanjut.


Apa itu penyakit Hepatitis?

Sering kan denger penyakit hepatitis, atau setidaknya pernah denger lah, kan kemaren rame tuh di berita.
Yakan?

Nah, hepatitis itu penyakit apa sih?

Menurut penuturan ibu dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes. selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, ini.
Katanya sih, segala penyakit yang belakangnya berbunyi –itis itu artinya radang, atau peradangan.

Jadi,
Hepatitis adalah Hepar (Hati) yang meradang, gampangnya disebut radang hati. Umumnya disebabkan oleh infeksi virus, meskipun pada beberapa kasus ditemukan akibat kebiasaan konsumsi alkohol, atau konsumsi obat-obatan tertentu dalam kurun waktu jangka panjang, atau bisa juga disebabkan oleh kondisi autoimun.


Hepatitis atau radang hati terbagi menjadi dua kelompok fase, akut dan kronis.
Yaitu, hepatitis akut yang berlangsung kurang dari 6 bulan, sedangkan kronis berlangsung lebih dari 6 bulan.

Nah, Hepatitis sendiri pada dasarnya memiliki 5 tipe nih; A, B, C, D dan E.
Dimana untuk Hepatitis A -yang kemarin sempat heboh tuh- dan Hepatitis tipe E tergolong dalam kelompok akut, atau lebih ringan.
Sedangkan tipe B, C, dan D termasuk dalam kelompok akut dan kronis.

Oke, kita kulik satu-satu ya. Jangan lupa siapin cemilannya.


Heptitis A

Hepatitis tipe A ini disebabkan oleh virus dari family Picornaviridae.

Bentuknya kek gimana tuh virus, mak?

Ampun deh ya, jangankan bentuknya, namanya aja saya baru denger ini. ~ahhai.

Karena saya bukan dokter, bukan lulusan sekolah kesehatan, jurusan IPA pas SMA aja bukan, jadi saya jelasin dengan bahasa umum yang mudah dicerna saja ya. *makanan kali dicerna, ehhe~

Menurut penjelasan ibu dr. Wiendra, Hepatitis A ini tergolong dalam kategori yang paling ringan diantara kelima tipe diatas, dan biasanya akan sembuh dengan sendirinya.

ibu dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes.
Direktur pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung


Namun karena gejala yang muncul seringnya cukup mengganggu aktifitas pasien yang terserang, biasanya pasien akan diberikan obat sesuai dengan gejala yang muncul.

Misalnya gejala yang muncul demam, maka akan diberikan obat penurun panas. Atau misalnya gejalanya mual dan muntah, maka akan diberi obat pereda mual muntah.
Jadi obatnya mengikuti keluhan dari gejala yang timbul saja (simptomatik).
Sedangkan untuk penyakit hepatitisnya sendiri, akan sembuh by-self setelah beberapa hari atau minggu.

Dilanjutkan pada sesi berikutnya oleh prof.Dr.dr. I Dewa Nyoman Wibawa, SpPD,KGEH. selaku Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Cabang Denpasar, disebutkan sebanyak 70% pada pasien anak-anak dibawah usia 6 tahun tidak menunjukkan gejala (asimptomatik) seperti pada umumnya penderita usia dewasa.

Dan hanya kurang dari 1% pada penderita dewasa yang mengalami Hepatitis A Fulminan, yaitu berkembang menjadi gagal fungsi hati.

Kondisi Hepatitis A Fulminan ini pun umumnya lebih sering terjadi pada lansia atau pada penderita penyakit hati kronis.

Meskipun terlihat lebih sepele, tetapi harga vaksin hepatitis tipe A ini tergolong mahal, lho. Itu sebabnya pemerintah tidak menyediakan vaksin untuk hepatitis jenis ini.

eitsss,
Bukan karena mahalnya lantas pemerintah tidak perduli, ya. Tapi ketidak-disediakannya vaksin Hepatitis A ini karena penyakit ini mampu sembuh dengan sendirinya, pun pencegahannya mudah dilakukan oleh masyarakat awam.

Begitu penjelasan ibu dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes. ini selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung.


artikel lain: Butuh Pilihan Proteksi Diri dari Penyakit Kritis Tidak Menular, Baca ini!


Hepatitis B, C dan D

Hepatitis B memiliki dua kategori fase, akut dan kronis.
Dimana penderita Hepatitis B akut masih dapat disembuhkan jika segera ditangani, jika tidak, virus ini berpotensi besar menjadi Fulminan bahkan kronis jika tidak segera terdeteksi dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Nah, karena Hepatitis B ini gejalanya jarang muncul di fase akut, maka akan beresiko tinggi menjadi Fulminan dan Kronis.
Tak salah jika Hepatitis sering juga disebut Sexy Killer, eh bukan, Silent Killer maksudnya.
Sebab kehadirannya yang tak kentara ini justru mampu mematikan.

Pun demikian hal nya pada Hepatitis C.

Bahkan dikatakan Hepatitis C ini paling beresiko diantara kelima tipe hepatitis.
Ironisnya, prevalensi Hepatitis C di Indonesia ini cukup tinggi, yaitu lebih dari 1%. (sumber: Riskesdas 2013).

Hepatitis C memiliki keterkaitan yang kuat dengan sirosis (pengerasan hati) hingga kanker hati.
Karena sebagian besar pasien hepatitis C akut atau sekitar 75-85% dari jumlah pasien berkembang menjadi hepatitis C kronis, sehingga tinggi potensi terjadinya sirosis (pengerasan hati) hingga kanker hati.

Sedangkan pada Hepatitis D, biasanya hanya terjadi pada pasien Hepatitis B saja.
Artinya, jika seseorang terdeteksi mengidap virus Hepatitis B, maka potensi tertular hepatitis D baru akan muncul, karena virus ini hanya berkembang kalau ketemu dengan virus Hepatitis B di dalam tubuh penderita.

*Virus aja bisa milih pasangan, masa lu kagak! 
#eeaaah gausah baper, minum aja es jeruknya, gih.


Gimana dengan Hepatitis E?

Hepatitis E hampir sama dengan Hepatitis A ya, penanggulangannya pun serupa. Hanya berbeda family virus dan masa inkubasinya.

Ngomongin inkubasi jadi ngerasa kek anak IPA deh, ahh. bhaha~

Oke, skip aja becandaan yang garing ini.

Lanjut…


Penularan Hepatitis Melalui Apa Saja?

Hepatitis ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus, sehingga mudah menular.

Untuk kasus Hepatitis A dan E, penularan atau infeksi virus ini melalui orofecal atau oral, artinya masuk melalui apa yang kita makan dan minum.
Oleh sebab itu, pencegahannya pun cukup dengan memperhatikan Personal Hygiene atau kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya.

Misalnya dengan membiasakan mencuci tangan sebelum makan, mencuci bersih bahan makanan yang akan dimasak, menggunakan air bersih untuk memasak maupun untuk mencuci peralatan dan bahan makanannya.
Dan seterusnya.

Pada kasus KLB Hepatitis A di Jawa Timur kemarin, disampaikan juga oleh ibu dr. Wiendra hingga kini belum ada rilis penyebab utama terjadinya wabah tersebut.
Karena meski disinyalir terjadi kontaminasi air bersih yang digunakan masyarakat sekitar, faktanya hasil tes laboratorium menunjukan nilai negatif untuk virus ini.

Perlu digaris-bawahi juga, bahwasannya penularan Hepatitis A ini tergolong cepat, namun bisa sembuh dengan sendirinya bahkan mampu membentuk anti body yang kebal terhadap penyakit ini pada penderitanya setelah sembuh.


Sedangkan pada kasus Hepatitis tipe B, C dan D, ketiganya ditularan melalui kontak darah dan cairan tubuh. Misalnya penggunaan sikat gigi secara bergantian dengan teman atau bahkan pasangan/keluarga.

Siapa saja sih yang beresiko tinggi tertular Hepatitis B dan C?

Pada dasarnya semua orang berpotensi tertular, tetapi beberapa kelompok lebih beresiko, antara lain:
  1. pengguna jarum suntik tidak steril/bergantian, terutama pada pengguna narkoba jenis suntik.
  2. pasien hemodialisis
  3. pasien yang pernah menerima transfusi darah
  4. sering bergonta-ganti pasangan seksual
  5. memiliki anggota keluarga yang mengidap Hepatitis B/C
  6. penggunaan tatto, pisau cukur, tindik, jarum perawatan wajah, menicure/pedicure yang tidak steril
  7. petugas kesehatan yang tertusuk jarum bekas pasien positif.

Begitu juga dengan ibu hamil yang positif hepatitis dapat menularkan pada anak yang dikandungnya.

Namun, menurut paparan prof. Dewa Nyoman, penularan Hepatitis B secara vertikal dari ibu hamil pada anak yang dikandungnya bukan ditularkan melalui placenta, bukan pula bersifat genetik atau turunan.

prof. Dr. dr. I Dewa Nyoman, SpPD, KGEH.
Ketua perhimpunan peneliti hati Indonesia (PPHI) Cabang Denpasar


Penularan vertikal ini justru terjadi saat proses persalinan, yaitu dimana terjadinya kontak darah dari ibu terinfeksi dengan si jabang bayi yang baru dilahirkannya.

Itu sebabnya penting banget nih buat calon MahMud, mamah-mamah muda, untuk memahami hal ini dan melakukan pencegahan dini dengan skrining atau pemeriksaan DDHB (Deteksi Dini Hepatitis B) saat hamil.

Jika ibu hamil positif terinfeksi Hepatitis B ini, maka petugas kesehatan setempat akan melakukan tindak lanjut dan memberikan penangannan yang tepat untuk sang ibu dan buah hati yang nanti akan dilahirkannya.

Yaitu dengan memberikan bayi baru lahir tersebut dengan vaksin HB0 dan HBIg, yang disuntikkan pada bagian berbeda tubuh bayi.
Sedangkan pada bayi yang lahir dari ibu yang tidak memiliki indikasi HB positif, hanya akan diberikan vaksin HB0 saat bayi baru lahir untuk menghindari terjadinya infeksi HB.

Kemudian vaksin dilakukan pengulangan atau booster pada saat usia bayi 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan.

Hmmm, emak ini ya, yang biasanya pegang gincu dan blush-on, sekarang disuruh belajar tentang vaksin, hahaha~

Tapi memang emak wajib tahu, apalagi kalau ngaku Emak Netizen Cerdas, harus tau!
yekan?


Dampak apa yang akan muncul jika Hepatitis tidak terdeteksi?

Nah ini nih yang perlu kita pahami juga.

skema Hepatitis B akut vs Kronis


Penyakit Hepatitis yang tidak terdeteksi, akan berakhir menjadi sirosis bahkan kanker hati. Dampaknya, beban pengobatan yang akan ditanggung negara sebesar 1 M untuk per 1 kasus sirosis dan 5M untuk per 1 kasus kanker hati.

Ini baru 1 kasus saja, lah kalau menular dan menular menjadi banyak kasus?

Jawab sendiri ya, tapi nggak pake ngedumel, plis. Makan saja pisang gorengnya, keburu dingin tar. 


Cara Pencegahan dan Pengobatan Hepatitis B dan Hepatitis C

Hepatitis dinamai juga sebagai sexy silent killer, karena sebanyak 80% pasien Hepatitis tidak menunjukkan gejala.

Meski gejala ini jarang muncul, namun patut diwaspadai juga jika terjadi gejala ringan seperti:
  • Letih, lemah, lesu
  • Demam
  • Mual dan Nyeri perut
  • Nafsu makan berkurang


Pencegahan Hepatitis B

Untuk pencegahan penularan Hepatitis B, Pemerintah saat ini memprioritaskan kegiatan DDHB atau Deteksi Dini Hepatitis B pada ibu hamil.
Hal ini dikarenakan sebanyak hingga 95% kasus penularan HB terjadi dari ibu hamil yang positif terinfeksi.

Dengan deteksi dini ini, harapannya penularan HB vertical dapat ditekan.

Namun, diharapkan juga kepada seluruh lapisan masyarakat dapat turut andil dalam pencegahannya dengan cara menghindari kontak darah dan cairan tubuh, antara lain dengan:
  • pastikan steril alat-alat suntik/pisau dan perlengkapan yang digunakan untuk perawatan seperti Tatto, tindik, sulam alis dll 
  • selalu gunakan sikat gigi dan alat cukur secara pribadi
  • lakukan kewaspadaan umum setiap tindakan medis
  • hindari hubungan seksual yang tidak sehat dan tidak aman


Cara Mengobati Hepatitis B

Nah gimana tuh bagi pasien yang sudah terpapar virus HB?

Pada HB fase Akut (kurang dari 6 bulan), individu yang terinfeksi umumnya mengalami timbul gejala sekitar 1 hingga 4 bulan setelah terpapar virus HB.

Pada kebanyakan pasien HB akut, gejala ini akan mereda dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan.
Meski sejumlah kecil kasus HB akut inu dapat pula berubah menjadi HB Fulminan, bahkan justru menjadi HB Kronis.

Sedangkan pada HB fase Kronis, infeksi berlangsung lebih dari 6 bulan. Bisa sembuh juga, namun pada fase kronis ini biasanya infeksi tidak dapat hilang sepenuhnya.

Pasien dewasa yang terinfeksi umumnya dapat melawan virus ini hingga infeksi sembuh.
Yaitu dengan meningkatkan imunitas tubuh.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan sehat sarat gizi, serta berperilaku hidup sehat sehingga dapat meingkatkan kekebalan tubuh pasien untuk melawan infeksi virus HB tersebut.

Sayangnya tidak demikian pada pasien anak-anak, itu sebabnya pencegahan di awal kelahiran bayi merupakan tindakan yang efisien.


Pencegahan Hepatitis C

Karena HCV ini penularannya melalui kontak darah dan cairan tubuh seperti pada HBV, maka tindakan pencegahannya pun serupa, yaitu menghindari penggunaan alat-alat pribadi secara bergantian dengan orang lain, selalu waspada terhadap tindakan medis atau segala perawatan yang akan kontak dengan darah atau cairan tubuh.

Serta tidak melakukan hubungan tak sehat dan tak aman.
Ini tidak hanya berpotensi tertular HCV saja, tetapi juga berpotensi ditimpuk panci oleh pasangan anda.
#eaaa

Hmm, panjang ya?
Minum es jeruknya dulu, deh.

Udah seger, kan?

Lanjut lagi yuk, tanggung nih udah diujung. ~ehh


Pada kasus Hepatitis C Kronis, gejalanya meliputi:
  • Buang air kecil dan besar (BAK dan BAB) berwarna coklat gelap.
  • Mata tampak kuning, begitu juga dengan kulit
  • pada kasus yang parah perut akan membuncit karena adanya air di rongga perut

Untuk mengetahui seseorang terinfeksi Hepatitis C, diperlukan adanya skrining darah (anti-HCV). Jika hasilnya positif, maka dilanjutkan pemeriksaan jumlah virus (HCV RNA).


Lalu siapa saja yang prioritas diperiksa?

Bila seseorang pernah beresiko tertular, sebaiknya melakukan tes anti-HCV ini meskipun tingkat enzim hati masih normal.

Namun pada semua penderita HIV/AIDS tes ini wajib dilakukan, mengingat koinfeksi atau infeksi bersamaan banyak terjadi.

Jika mendapati hasil positif pada skrining HCV ini, maka pasien tersebut perlu pemeriksaan lanjutan untuk mendapatkan pengobatan atau penanganan lebih lanjut.


Cara Mengobati Hepatitis C

Meskipun Hepatitis C telah didaulat sebagai hepatitis paling killer, berita bagusnya kini Hepatitis C pun dapat disembuhkan dengan pengobatan kombinasi yang disebut dengan DAA (Direct Acting Antiviral).

pengobatan hepatitis dengan daa
kelebihan pengobatan Hepatitis C dengan DAA


Menurut data dari Kemenkes RI, pengobatan DAA tersebut memiliki daya kesembuhan sebesar 97% dengan waktu pengobatan yang dibutuhkan hanya sekitar 3-6 bulan.
Waktu ini memangkas setidaknya 50% lebih singkat dibanding dengan pengobatan versi lama atau pegylated. 

Selain lebih simple karena obat cukup diminum tanpa disuntik, efek samping yang ditimbulkannya pun lebih ringan, dan tentu saja dengan biaya atau harga yang relatif lebih murah dibanding metode pegylated.

Pemeriksaan HCV kembali dilakukan di minggu ke-12 setelah selesai pengobatan. Hal ini diperlukan untuk memastikan kesembuhan pasien.

Nah, buat temen-temen yang merasa perlu melakukan pemeriksaan HCV ini, silahkan datangi RSUP dan atau RSUD setempat untuk mendapatkan informasi jelas atau rujukan yang lebih detail.

Informasi lengkapnya bisa juga kunjungi website resmi Kemenkes RI di  www.sehatnegeriku.kemkes.go.id


Kesimpulan:

  • Hepatitis B dan C merupakan Silent Killer yang patut diwaspadai
  • Penyakit Hepatitis A, B, C masih endemis di Indonesia, sehingga diharapkan seluruh lapisan masyarakat turut berkontribusi membantu pemerintah dalam upaya pencegahan Hepatitis ini
  • Sebagian besar pengidap Hepatitis tidak menunjukkan gejala, sehingga perlu dilakukannya screening atau pemeriksaan sejak dini
  • Biaya pengobatan Sirosis dan Kanker hati sangat tinggi hingga dapat mengganggu perekonomian negara jika semua beban tersebut harus ditanggung oleh pemerintah, maka dari itu upaya pencegahan merupakan tindakan terbaik untuk menekan timbulnya resiko permasalahan yang lebih besar
  • Hepatitis dapat dicegah, didiagnosis dan bahkan diobati hingga sembuh dengan pengobatan DAA.
  • Dan sebagai kesimpulan terakhir, kita; yang ngakunya Netizen Cerdas ini, mari bersama-sama turut berkontribusi dalam sosialisasi pencegahan Hepatitis sebagai perpanjangan tangan dari Kemenkes RI demi terwujudnya Generasi Penerus Bangsa yang bebas dari Hepatitis serta penyakit menular kritis lainnya.


Nah, sekarang sudah paham kan genks apa itu Hepatitis, bahayanya, gimana cara pencegahannya serta pengobatannya.

Nggak ada lagi telan mentah-mentah berita ya genks, jika kalian butuh informasi valid tentang kesehatan, jangan ragu untuk follow akun MedSos Kemenkes RI ini:



Mari #EliminasiHepatitis, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa!



Bonus: tak lupa narsis bareng sebelum pulang, 
hayooo tebak aku yang mana?
Tulis di kolom komentar ya....




Salam,



Post a Comment

50 Comments

  1. Beberapa minggu lalu rekan se institusi meninggal karena ini. Menurut info kanker hati. Tapi katanya biasanya terdeteksi sebagai hepatitis dulu kemudian menjadi kanker.

    Entahlah.

    Smg kita semua selalu diberi kesehatan oleh Allah swt

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, menurut penjelasan sih kanker hati berawal dari hepatitis kronis yang tidak segera ditangani. makanya kalau ada indikasi rentan tularan, sebaiknya segera tes hepatitis B dan atau C nya.

      aamiin, semoga kita selalu diberi kesehatan

      Delete
  2. Ngeri ya, mbak, kalau tahu-tahu udah fase akut gitu.
    Ayah dari temenku katanya juga ada yg meninggal karena Hepatitis B. Ketahuan udah kronis.
    Kapan-kapan bikin agenda buat screening bareng yuk mbak di Sanglah

    ReplyDelete
  3. Hepatitis kronis harus segera di eleminasi biar tidak makin merajalela

    ReplyDelete
  4. Duh kalau dengar kata hepatitis berasa momok aja, takut banget karena termasuk jenis penyakit silent killer, tahu-tahu sudah terjangkit aja. Bener-bener perlu sosialisasi dan penyebaran informasi tentang bahayanya penyakit ini, agar masyarakat secara umu sadar akan kesehatannya sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, serem banget kan kalau tau2 udah kronis aja. Nauzubillah.

      Delete
  5. Ngeri memang nie kalo Uda mbahas tentang Hepatitis, penyakit yang susah banget di deteksi tapi akibat yang ditimbulkan penyakit INI mengerikan

    ReplyDelete
  6. Akutu takut Mak, kalo denger kata KLB. 2 tahun yang lalu sempat ada KLB di kabupatenku karena masyarakat nggak germas. Padahal itu bisa jUga jadi penyebab KLB hepatitis ya... Ngeri ih. Semoga kita terlindungi, makin waspada setelah mengenal hepatitis

    ReplyDelete
  7. Generasi millenial bisa menjadi duta kesehatan yang membagi info hepatitis dengan benar.

    ReplyDelete
  8. Selama kita tahunya penyakit yang menjadi momok yang menakutkan hanyalah kanker, ternyata hepatitis juga sangat berbahaya.

    ReplyDelete
  9. Konten Blognya menarik sekali, Isinya sangat juga keren sekali. Apalagi dengan tema Hepatitis kali ini. Jadi makin tahu banyak soal penyakit Hepatitis ini. Terima Kasih infonya..😁

    ReplyDelete
  10. Wah tau cara pencegahan hepatitis buat kita jadi lebih tenang iyah, mencegah lebih baik dari pada mengobati kan kk

    ReplyDelete
  11. Iya berita hoax itu banyak banget ya, termasuk yg tentang kesehatan.
    Senang bisa mendengar langsung edukasi tentang hepatitis ini bareng kemenkes ya, makasih sudah sharing jadi nambah pengetahuan lagi tentang hepatitis, dari mulai bahayanya sampai pengobatannya.

    ReplyDelete
  12. hmm jadi klb ya, waduh. Makasih mbak tulisannya lengkap, bisa jadi bahan buat mencegah hepatitis, soalnya di keluarga alhamdulillah blm ada yg pernah kena (jgn sampai mudah2an, aminn)

    ReplyDelete
  13. Kudu semangaaaatt utk berbagi info yg valid ya mba
    apalagi kalo tema medis gini, huffttt banyak bgt hoax.
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  14. Ternyata hepatitis banyak macamnya, ya. Saya cuma tau sampai yang C. Adik saya pernah kena hepatitis A. Belum sampai tingkat mengkhawatirkan karena langsung ditangani. Tetapi, memang harus tetap waspada

    ReplyDelete
  15. Pemaparan komplit banget mba, pengetahuanku tentang Hepatitis tercerahkan lewat ulasan ini, inti A dan E bisa ditangani ya, BCD sdh kronis. Tapi intinya harus memperhatikan kesehatan pribadi ya,

    ReplyDelete
  16. oh i see mba, jadi paham sekarang bedanya A B C D E pada penyakit hepatitis, sedikit lebih pinter nih aku jadinya. Karena aku sempet penasaran juga dengan informasi penyakit yang kemarin heboh, cuma kalo gak langsung dari expert nya ragu juga kan mempercayai langsung.

    ReplyDelete
  17. Katanya lever itu usat rgan, jadi memang penting banget jaga lever,agar semua organ juga sehat, termasuk terjaga dari kemungkinan terkena hepatitis

    ReplyDelete
  18. Ngeri juga hepatitis ini. Sayang beritanya kalah dengan penyakit lain seperti kanker. Semoga makin banyak sosialisasi begini agar masyarakat lebih memperhatikan kesehatannya.

    ReplyDelete
  19. alhamdulillah berguna banget ini artikel mba. Dulu waktu kelas 2 SMA saya didiagnosa gejala hepatitis A atau orang awam bilang sakit kuning. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh total. Aamiin. Terima kasih ya mba.

    ReplyDelete
  20. Memang zaman sekarang banyak sekali berita hoax seputar kesehatan yang beredar di timeline dan group whastapp. Harus dilawan dengan berita yang bener, saring sebelum sharing tuh setuju sekali!

    ReplyDelete
  21. Iya nih kita harus benar-benar aware dengan penyakit Hepatitis, sepupu aku sewaktu hamil kena hepatitis dan tertular ke anaknya dan bayinya nggak tertolong. Semoga kita lebih memahami sinyal tubuh ya mengingat Hepatitis ini nggak menunjukkan gejala.

    ReplyDelete
  22. ooo ternyata emang ada perbedaan ya antara hepatitis A, B, C, dst. tadinya tuh aku kira cuma sekedar tingkat stadiumnya aja.

    ReplyDelete
  23. Sebelumnebak mbak Sera yang mana aku zoom dulu fotonya deh hhihi, mending ketemu langsung aja deh ya mbak.
    Serem juga ya baca postingan tentang hepatit sini, ternyata wabah yang terjadi di Jatm beberapa waktu lalu akibat penggunaan ari yang dikonsumsi warga ya, pantesan sampai mewabah gitu

    ReplyDelete
  24. Hepatitis merupakan penyakit yang mematikan . Suka bergantian inilah yang menyababkan Kita terkenal hepatitis. Sederhana ya dan dan kebiasaan inilah yang membuat kita jadi penderita hepatitis

    ReplyDelete
  25. Saya selalu berdoa agar penyakit hepatitis ini bisa hilang di muka bumi. Kasian kalau liat pasien hepatitis karena sangat menderita, keluarganya pun juga kasian.. :(

    ReplyDelete
  26. Sedihnya yaa...pas aku melahirkan anak kedua, dokter langsung bilang kalau aku positif hepatitis. Jadi anakku harus langsung di vaksin.

    Tapi,
    Tetap harus bersyukur bahwa terdeteksi awal. Jadi bisa di tanggulangi.




    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga semua dalam kondisi sehat ya mba, semoga kita semua terhindar dari penyakit berbahaya. aamiin

      Delete
  27. Aku sampai sekarang masih penasaran tentang penyebaran virus hepatitis karena tertular saat menerima transfusi darah. Nah, waktu PMI terima donor apakah darahnya tidak dites dulu ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau donor darah pasti sudah melalui prosedur yang ketat sih mba, tapi karena hepatitis ini penularannya bisa melalui darah, tentu saja tetap beresiko. jadi sebaiknya dilakukan tes Hepatitis jika pernah menerima transfusi darah. begitu penjelasannya kemarin.

      Delete
  28. Duh mudah2 an saja kita bs terhindar dari penyakit ini..ya.. yg transfusi darah SOP nya ada periksa kesehatan dulu kah..

    ReplyDelete
  29. Saya jadi inget mama saya almarhumah mbak, mamah sakit hepatitis gak lama, cepet banget jadi kanker sirosis, ya Allah andai aku tau gimana cara mencegahnya. makasih ya mbak sharingnya. kampanye pencegahan hepatitis ini penting banget diketahui masyarakat secara luas, terutama kepada kalangan ekonomi lemah. karena mereka belum tentu mau baca kan, harus ketemu langsung

    ReplyDelete
  30. kita memang harus ekstra hati - hati ya sekarang mba. Enak ikut acara seperti ini, jadi tauuu ya mba

    ReplyDelete
  31. Yups bener ,, tetanggaku dan temen2 papa yang cuci darah ada beberapa yang ketularan hepatitis dari transfusi darah, somga kita semua sehat selalu ya kak.

    ReplyDelete
  32. ih serem banget nih. Aku baru tau lebih jauh lebih ternyata hepatitis nih bahaya juga. Ngeri ih. Sebelum baca ini nih aku mikirnya ya hepatitis tu penyakit biasa aja .... *penyakit biasa tu cem mana pula ._.

    ternyata eh ternyata, ganas juga nih.

    ReplyDelete
  33. Kirain hepatitis itu cuma A dan B ternyata ada C, D, E dan termasuk penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kematian pula ya :(

    Jd buat pencegahan emang perlu screening2 gtu ya mbak, selain juga melakukan vaksin. TFS

    ReplyDelete
  34. Dulu ade boss di kantor meninggal karena hepatitis A, katanya sih kecapean dan makan sembarangan. Memang berbahaya banget, meninggalnya cepat . Tahu tahu drop, ga tertolong

    ReplyDelete
  35. Ngerii penyakit hepatitis ini... ..yookk kita mencegahnya dengan pola hifup sehat.

    ReplyDelete
  36. Dirimu yang pegang pundaknya Mbak Yuni bukan sih, Mbak? Semoga bener. Hihihi.

    Ngomongin soal hepatitis tuh mengingatkanku akan memori di masa kecil. Soalnyaibuku pernah sakit, terbaring di ranjang ada kalau sebulan karena hepatitis A. Entah apa yang dulu kupikirkan, aku merawat ibuku bersama bapakku saja. Alahmdulillah dengan rawat jalan dengan intensif ibuku sehat wal afiat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahaha anda benar sekali kisanak. ketahuan deh jadinya, xixixi

      Delete
  37. Semoga acara sejenis sering juga diadakan di daerah, biar bisa nyerap ilmunya
    barokallah makasih Teh, sudah dibagikan juga ilmunya acara yang didapat.

    ReplyDelete
  38. Mari tetap menjaga kebersihan dan kesehatan dari diri masing masing serta serta jangan lupa untuk vaksin hepatitis

    ReplyDelete
  39. Saudara saya juga ada yg kena. penyakit kuning mereka bilang. Agar tidak menyebar. Tidak boleh dijenguk. Kasian sih. Apalagi kita akrab. Semoga penyakit ini segera bisa tertangani dng tuntas

    ReplyDelete
  40. Superrr banget ulasanyaaa lengkaaap dan enak dibacanya dr awal sampai tau" udah habis ajaa hehhehe jd makin paham ttg penyakit hepatitis mbak, harus siaga jugaa ya dan makin kenali diri sendiri serta sekitar. Makasih sharingnya 😁🙏

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca artikel sampai selesai. Jangan lupa tinggalin jejak di kolom komentar sesuai artikel dengan bahasa yang baik dan sopan.

Link Aktif dan SPAM akan dihapus.
NO WAR!

Happy reading other article....