Kontroversi The World of the Married - Netizen 62 Horor!

pelakor

Opini Jujur ku Tentang "Horor"nya Drama Korea the World of the Married

Bismilahirrahmanirrahim,
Aslinya agak deg-degan sih nulis ini. Hehe. 
Tapi apapun itu, opini yang aku tulis ini sama sekali tidak untuk menyelisihi pendapat yang ada, ya. 

Oke.
Tadinya aku udah keukeuh nggak pengen ngintipin si drakor pelakor yang lagi trending ini. Tapi karena kabarnya bikin para mamak-mamak netizen +62 pada bar-bar nyerang akun Instagram si artis yang berperan sebagai pelakornya, Han So-Hee as Yeo Da Kyeong. Jadilah aku putar haluan. haha.

Duhhh Gustiiii, seheboh itukah hingga netijen yang merasa maha benar dan maha suci itu sampai turun tangan? 

Sumvah ya, sebagai bagian dari warga 62 yang juga mengaku netizen, dan juga sudah emak-emak, jujur sempat malu dengan tindakan mereka yang  'halu tingkat internesyenel' dan nggak bisa membedakan mana akting mana dunia nyata.

Ettapi tunggu.
Emang beneran diserang kah? atau hanya candaan saja?

Well, beberapa yang aku baca sih ada yang memang terkesan 'nyerang', meski beberapa akun tersebut sepertinya ada yang dari akun abal-abal juga karena tidak ada foto profilnya. Sekalipun ada foto profilnya, benarkah itu akun real? kan bisa saja itu akun hasil hack, yakan?
Apapun itu, kenyataannya yang komen 'bar-bar' itu berbahasa Indonesia. Tahu kan maksudku?

SS aku IG So-Hae



Baiklah, hayu kita tonton, ehh salah, kita bahas drama heboh ini.

Sampai detik aku menulis dan posting artikel ini, episode yang sudah tayang sebanyak 8 episode dari total keseluruhan 16 episode. Tapi aku stop hanya sampai di episode ke 5 saja. 
Kenapa?
Alasan pertama, yang jelas, selama nonton drama ini membuat 'jiwaku' gak tenang. 

Lah buat apa aku tonton, kan tujuanku nonton drama korea selama ini hanya untuk nyari hiburan. 
Kalau malah bikin aku spaneng, buat apa? Hidup udah berat gini kok masih disuruh mikir yang berat-berat lagi. LOL
Alasan yang sama kenapa aku nggak pernah nonton genre thriller yang bagiku 'horor' banget dan bikin tidurku nggak tenang itu.
Tapi ini bukan berarti aku menyelisihi pecinta drama ini atau genre sebelah, ya. Bukan. Ini murni alasanku secara pribadi saja. 

Oke, lanjut.

Sesuai judulnya, dan sebagaimana tayangan di sepuluh menit pertama, drama ini bukan untuk konsumsi remaja di bawah 18 tahun. Karena baru di menit ke lima saja, kita sudah disuguhi adegan yang bikin jantung ser-ser. Semacam adegan 'semi' gitu deh. Jadi buat kalian yang jomblo, sebaiknya hindari menonton ini apalagi pas malam dan lagi hujan. Asli, jangan! wkwkwk.
Dan sebelum nonton, pastikan perut sudah terisi ya. Karena drama ini bikin orang baper, bawaannya laper.


Tokoh Utama

Pemeran utama wanita diperankan oleh aktris senior Kim Hee-Ae sebagai Ji Sun Woo. Diceritakan sebagai seorang dokter dan ibu sekaligus isteri yang perfect. Memiliki suami yang ganteng tapi kurang kompeten dalam hal materi. Begitu juga latar belakang keluarganya, bapaknya selingkuh sehingga orang tuanya bercerai. Tokoh utama pria ini diperankan oleh Park Hae-Joon sebagai Lee Tae-O.

Sedangkan tokoh pelakornya, seperti yang aku bilang di atas tadi. Diperankan sangat apik oleh Han Soo-Hee sebagai Yeo Da-Kyeong. Yakni putri tunggal dari pembesar di daerah itu. Cantik molek dan masih berusia 24 tahun. Cantik, muda, kaya raya, suka sama om-om laki orang yang nggak kompeten pula. Yang dicari apa coba? emang bener cinta itu rumit kek hidungnya patkai kok. wkwk.


Alur

Dari episode 1-5 yang sudah aku tonton, alur cerita sudah hidup banget. Nggak flat kayak drama genre romance komedi yang biasa aku tonton. Bisa kebayang kan, gimana episode-episode selanjutnya? 
Pasti akan lebih menguras emosi jiwa dan raga. Bahkan spoilernya si pelakor ini justru nikah sama si bebeb ganteng. aw aw aw.
Itu kenapa aku stop dulu nontonnya untuk saat ini. Nunggu sampai aku merasa tenang untuk bisa menonton lagi dengan khidmat. Atau bahkan nggak nonton sama sekali lanjutannya daripada kram hati nantinya.

Dan itu pula yang mungkin menjadi penyebab mamak-mamak pada heboh cenderung bar-bar. Tapi ini bukan lantas membenarkan komenan  mamak-mamak bar-bar itu ya. Tetep itu nggak semestinya. Halu boleh, bego jangan!

Di episode 1 saja, tokoh utama perempuannya sudah menemukan si pelakornya. Ini jelas mengisyaratkan kalau drama ini 'padat'. Nggak bertele-tele alias kaleng. 

Sayangnya reaksi pertamaku di episode ini mungkin agak mengecewakan para mamak-mamak yang budiman sekalian. Ternyata aku nggak serta merta kasihan dengan bu dokter terus melo-melo club. enggak. 
karena dari awal donlot kan sudah tahu drama ini tentang apa, jadi sudah kebayang. 
Yang aku pikirin justru pengen nyemir rambutku kayak si cewek pelakor itu. Suwerrrr, ngiler aku. wkwkw.


Cerita di tiap episodenya juga dibuat sangat masuk akal, termasuk reaksi bu dokter sang tokoh utama wanita protagonisnya. Bagaimana dia memilih mengumpulkan strategi untuk nantinya menjungkir balik keadaan. Jauh banget sama cerita klasik tokoh utama yang dari A sampe Z cuma bisa nangis bombay dan menerima kenyataan tanpa berbuat apapun, serta hanya menunggu petir kilat menyambar sang pelakor. 

Walaupun mungkin ada sebagian penonton yang protes tentang bu dokter yang balas dendam dengan "bobo manja" sama laki-laki lain yang juga teman suaminya itu. Tetep aku berpendapat cerita ini lebih hidup daripada cuma nangis-nangis tak berdaya. Hellow, ini bukan lagi jaman siti nurbaya.

Bukan pula berarti aku membenarkan ya, tetep itu tidak benar. Tapi menurutku ini sah-sah saja sebagai bagian dari reaksi yang masuk akal, daripada sekedar menunggu petir datang membelah tanah yang gersang. Semut diinjak aja nggigit, masa iya manusia yang punya akal cuma diem aja didzholimi pelakor sampe ngesot-ngesot. Sampe jadi babunya sang pelakor. Yang bener aja.
Ya walaupun itu mungkin bisa saja terjadi di dunia nyata, tetapi secara umum dan secara akal sehat, itu minim.


Lalu, sebreng**sek apakah tokoh pelakor ini?

Ada dialog yang cukup menggelitikku dan mungkin sempat rame di meme-meme yang berseliweran.
"sejala**ng apapun kamu, hanya orang jahat yang menghancurkan keluarga orang lain" umpat Bu dokter pada si pelakor.
Wewww, daebak bu dokter!

Yang namanya pelakor, semua pasti sepakat bakal bilang bren**gsek, yekan? itu sudah nggak bisa diganggu gugat. Tapi...
sejatinya dia juga manusia biasa yang pada dasarnya tidak bisa menentukan akan jatuh cinta pada siapa. Karena, hati itu tak punya mata. Ia hanya bisa merasa tanpa bisa membedakan rupa, warna, apalagi baca akta nikah. haha.

Yang aku tangkap sih, si cewek ini terjebak "cinta buta" gitu. Sekali lagi, terkadang cinta itu bisa datang disaat yang tidak tepat. kek lagunya Fiersa Besari itu lho. Cintanya nggak salah, posisinya yang nggak tepat.

wait, 
aku tahu kalau pasti bakal banyak yang protes dengan opini ini. Tapi ini opini yang menurutku juga nggak bisa ditolak mentah-mentah.
Coba deh renungin sendiri.

Pada dasarnya, orang ketiga akan hadir di antara sebuah hubungan yang nggak solid. Entah itu celah pada isterinya, suaminya, atau pada hubungan itu sendiri. Karena tak ada sesuatu pun yang benar-benar sempurna kecuali pemilik semesta. 
Jadi jangan hanya menyalahkan pelakornya saja. Cari juga kesalahan kita, pasangan kita, dan bagaimana hubungan kita dengan pasangan.

Apakah pasangan kita sudah benar-benar bahagia seperti yang kita rasakan? apakah pasangan kita sudah benar-benar nyaman dengan kita? apakah hubungan ini benar-benar baik-baik saja? atau hanya terlihat baik-baik saja? 
hal ini tidak hanya berlaku untuk isteri saja, suami juga perlu mengoreksi jika nggak mau isterinya selingkuh.

Ehh, kok jadi konsultasi rumah tangga ya ini? haha.

Yang pasti, butuh kerjasama antara suami dan istri agar orang ketiga nggak sampai hadir. Disinilah komunikasi itu penting. Kalau komunikasi dua arah saja susah. Wes. Wasalam.

Ehh iya, satu dialog lagi yang aku kutip dari bu dokter.
"wanita setia itu bukannya tidak tahu cara berselingkuh, mereka hanya menahan diri karena yakin saling percaya sebagai pasangan itu penting"
Nah, lho. Kalau anda-anda nggak merhatiin ini, jangan nyalahin kalau wanitamu berselingkuh. wkwwk.
Juga harap diingat, "rumput tetangga selalu tampak lebih hijau". Kalau seorang suami bisa melihat hijaunya wanita lain, isterinya juga akan nampak hijau bagi pria lain.


Baiklah segini dulu cerita Kdrama kali ini. 
Secara kualitas cerita, drama ini rekomen banget khususnya buat yang sudah berumah tangga. Karena tentu sarat hikmah yang bisa diambil. Dan lagi, ceritanya cukup berbobot.

Tapi kalau nggak suka nonton yang berat-berat (kek aku -karena berat badan ini sudah cukup berat bagiku), drama ini termasuk kategori "horor". Lebih horor dari pembunuhan berantai.
Pesanku cuma satu: jadi melo boleh, jadi bego jangan!


anyyeong,
sera wicaksono

Posting Komentar

0 Komentar