Dolan ke Malang ngicipin es puter jadul yang super nagihin


dolan ke malang ngicipin es puter jadul


Seperti janjiku beberapa waktu lalu buat tentang es puter yang nagihin di kota Malang, kali ini aku mau ceritain kenangan manis sama si es puter ini ya.


Baca ini juga: Ngicipin Cwimie Hingga Fosco Legenda di Depot Hok Lay Malang



Jadi pas kami ke Malang waktu itu, kami nyempetin nongkrong sebentar di Alun-Alun kota Malang.

Alun-alun Malang yang dulunya gersang ini kini sudah disulap jadi tempat menarik untuk wisata lokal gratis bagi penduduk sekitar maupun pelancong. Patut pula untuk dijadikan pilihan tempat rekreasi keluarga yang murah meriah.

Lokasinya yang berada di seputaran pusat perniagaan, juga tepat berada di depan masjid Agung (Jami’) Malang, menjadikan alun-alun Malang sebagai tempat persinggahan para pelancong yang lelah berjalan kaki setelah menyusuri pusat-pusat perbelanjaan.

Etapi jangan salah dulu, alun-alun kota Malang beda dengan alun-alun Batu (Malang) ya dear.

***

Dolan ke Alun-Alun Demi Segelas Es Puter



Alun-Alun itu apa sih?

Menurut wikipedia, alun-alun (aloen-aloen/aloon-aloon) adalah sebuah lapangan terbuka luas dan berumput yang dapat digunakan untuk beragam kegiatan masyarakat.

Menurut Van Romondt, pada dasarnya alun-alun merupakan halaman depan rumah yang sangat luas.
Ya kali jaman dulu, ada halaman rumah yang luas, jaman gini mah halaman rumah bisa muat mobil kecil aja udah syukur. ~hihi


Tapi memang sih, kalau menilik sejarah, alun-alun merupakan sarana tempat berkumpulnya masyarakat (jaman dulu disebut rakyat jelata) jika ada kegiatan khusus.
Misalnya saat ada pengumuman penting dari penggede (baca: pejabat/kerajaan), maka rakyat atau masyarakat ini akan dikumpulkan di alun-alun untuk mendengarkan pengumuman.

Merupakan sebuah ciri juga jika alun-alun selalu berdekatan dengan balai kota. Tentu saja alasannya karena tempat tersebut merupakan central pemerintahan pada jaman dulu.
Untuk kebanyakan daerah di Jawa, yang kebetulan merupakan daerah persebaran agama Islam paling banyak, maka biasanya alun-alun juga akan berdekatan dengan masjid.

masjid agung jamek malang


Kalau kata guru sejarahku dulu sih, untuk daerah di Jawa biasanya alun-alun akan dikelilingi oleh 4 tempat pilar utama sebuah kota/daerah, yaitu:
  1. Masjid, atau Kauman (baca- Kaum wong Iman). Kauman ini sebutan untuk wilayah yang banyak dihuni oleh keturunan Arab, yang notabene sebagai pembawa ajaran Islam ke tanah air. 
  2. Pendopo atau Balai Kota, tentu saja sebagai kantor pusat pemerintahan setempat.
  3. Pecinan, biasanya disebut juga kawasan niaga/pertokoan, yang kebanyakan adalah keturunan cina.
  4. Pasar, merupakan poros perputaran roda ekonomi, tempat berkumpulnya masyarakat lokal untuk melakukan kegiatan jual-beli.


alun alun malang kota

Ada Apa di Alun-Alun Malang?

Dulunya tempat ini hanyalah sebuah lapangan gersang yang terbengkalai dan enggan untuk menggubrisnya.
Setelah mengalami proses peremajaan oleh pemerintah kota setempat beberapa tahun silam, alun-alun Malang ini kini menawarkan sebuah tempat refreshing keluarga yang murah meriah.

Di tengah alun-alun terdapat sebuah kolam lengkap dengan air mancurnya. Standar lah ini ya, karena hampir setiap alun-alun seperti itu.
Di sekeliling alun-alun banyak tersedia bangku-bangku untuk melepas lelah setelah berkeliling, atau sekedar duduk menikmati aroma Malang yang sudah tak sejuk lagi.

Tersedia beberapa spot corner juga yang menyediakan meja kursi tempat makan atau ngopi.

Karena kami ke sini tujuannya untuk nyenegin dek Rara biar bisa main prusutan, jadi aku hanya fokus di sekitaran tempat permainan anak-anak ini saja. Jadi maaf ya kalau nggak bisa cerita detail seluruh area alun-alun.

taman bermain anak alun alun kota malang
area playground cukup bersih dan terawat


Arena permainan anak-anak ini posisinya berada persis di depan kantor pos kota Malang.
Tersedia beberapa spot arena permainan anak-anak seperti prusutan (duhh bahasanya ya, haha), ayunan, dan juga sejenis alat fitnes.

Eits, jangan bayangin akan ada treadmill di tengah alun-alun ya. Karena peralatan olahraga tersebut terbuat dari besi dan dipasang permanen untuk olahraga seperti mengayuh, swing-leg, sit-up dan sepantarannya.
Sedangkan untuk treadmill tentu saja kita harus berlari mengelilingi alun-alun.

Kebetulan saat kami singgah masih dalam suasana lebaran, ramai pengunjung sudah pasti, yang bisa jadi merupakan pengunjung dari berbagai daerah yang memang sedang lancong ke Malang.

Ramai pedagang juga nggak usah ditanya. Mulai dari pedagang balon, mainan anak-anak, bubble dari air sabun, hingga cilok dan es puter tentu saja.


andong alun alun kota malang


Selain arena bermain anak-anak dan pedagang asongan, disini ada juga wisata transportasi naik delman istimewa ku duduk di muka, kereta naga dan odong-odong yang bahkan Cuma bayar 5 ribu untuk sepuasnya.

Serius 5 ribu sepuasnya, sekuat emaknya aja nungguin adek naik odong-odong sampe bosen.

Oiya, andong disini ada dua armada yang bergantian. Kebetulan dek Rara dapetnya yang andong pakai ban mobil gini, jadinya kurang andong banget.
Sedangkan andong yang satu lagi menggunakan roda dari kayu yang segede gambreng itu, khas ala kereta kuda lah pokoknya.

Jadi kalau mau naik yang andong model itu, musti perhatiin ya.


rumah burung dan air mancur yang sempet kejepret


Es Puter Jadul Super Nagih

Nah ini dia es puter yang mau aku ceritain.

es puter malang


Es puter ini dijual pakai gerobak keliling, tapi sering mangkal di pojokan depan Kantor Pos dekat alun-alun.

Pas Kantor Pos libur, biasanya mamang penjual es puter ini sudah stengbai dari pagi (agak siang deng). Tapi kalau pas kantor pos buka biasanya nunggu agak sorean atau kantor tutup.
Sempet sih lihat si mamang parkir sebentar pas Kantor Pos masih buka, tapi sebentar pergi lagi.

Asumsiku sih karena dilarang ngetem jualan disitu di jam-jam tertentu kali ya. Soalnya juga, pas beli untuk ke-dua kalinya sama mamang es puter yang lain, kayak nggak tenang gitu si mamangnya sambil tolah toleh kanan kiri takut kena razia.
Wah kasian si mamang, padahal es puternya enak lho. Suwer.


Baca ini juga: Es Teler Halalan Toyyiban


Es puter ini memang nggak selembut es krim, apalagi gelato, jauh.
Tapi justru teksturnya yang agak kasar dari kelapa muda itulah yang bikin es puter ini nagihin dan nggak bikin eneg.

Berbeda dengan es krim yang berbahan utama susu, es puter ini bahan utamanya adalah santan dengan  campuran kelapa muda yang dihaluskan dan tentu saja gula asli serta sedikit garam.

Seporsi es puter di alun-alun ini dijual seharga 5k rupiah saja, bisa menggunakan gelas atau cup plastik jika mau take away.
Dalam satu porsinya berisi es puter itu sendiri, lalu diberi topping bubur mutiara sagu, potongan roti tawar dan agar-agar yang dipotong kotak-kotak.

Beberapa penjual ada juga yang menyediakan es puter rasa coklat, tapi menurutku sih rasa original yang paling enak dan nggak bikin eneg.

Pokoknya buat kalian yang lagi mampir ke Malang jangan lupa nyicipin es puter ini deh, aseli nagihin.

Oiya, sekedar info, selain es puter ini jajanan lain yang selalu aku cari kalau ke sini adalah kue rangin/serabi bantol. Di beberapa daerah menyebutnya bandros (kalau nggak salah ya).

Kue jadul berbahan kelapa muda ini sudah mulai langka juga, makanya kalau main kesini aku selalu nyariin. Pedagangnya mangkal di pojokan Mitra.


Baiklah, sekian dulu ya cerita kali ini. Jangan lupa bersyukur dan bahagia.





anyyeong,


Post a Comment

2 Comments

  1. Yes ada ulasan sejarahnya.


    Klo liat delman jadi ingat lawakan jadul.... "bang kalo keliling2 sampe kudanya mati berapa ?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih, tumben pas pelajaran sejarah ini nggak ngantuk wkwkk

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca artikel sampai selesai. Jangan lupa tinggalin jejak di kolom komentar, ya dear.
Harap berkomentar sesuai artikel, dengan bahasa yang baik dan sopan.

Komentar yang tidak ikhlas, Link Aktif dan SPAM maafkan jika akan dihapus.
NO WAR!

Happy reading other article....