Resolusi: Krisis Plesir di Masa Pandemi, Akankah 2021 menjawabnya?

 krisis plesir di masa pandemi terjawab di 2021

Krisis plesir di masa pandemi, akankah 2021 menjawabnya?

Harapannya sih 2021 mewujudkan semua harapan baik, ya. Terutama karena banyak resolusi tahun lalu yang mungkin terbengkalai akibat wabah yang tak terduga. Ya meskipun bayang-bayang pandemi dan PSBB masih saja menghantui hingga awal 2021 ini. 

Bayangan liburan akhir tahun bersama keluarga besar kami berantakan sudah karena rencana cuti bersama terpaksa dipangkas, pun rencana perjalanan mereka ke Bali dan berkumpul bersama kami terpaksa pending karena adanya syarat-syarat "mahal" yang harus terpenuhi jika ingin memasuki wilayah Bali.

Sedih? ya pastinya.

Tapi apapun itu, akhir tahun sudah berlalu dan kini saatnya melangkahkan semangat baru untuk mewujudkan harapan baru.


Resolusi Kesehatan, Keinginan Traveling, dan Fenomena Medical Tourism

Akhir tahun lalu kita sudah digembirakan dengan datangnya jutaan dosis vaksin covid-19. Masyarakat pun bergembira dengan keputusan bapak Presiden yang memastikan semua masyarakat akan mendapatkan vaksin secara gratis. Meski saat ini vaksin baru diberikan kepada para tenaga medis yang berjibaku menghadapi para pasien covid yang jumlahnya masih ribuan, tapi tentu masyarakat tetap antusias memegang harapan mendapatkan suntikan vaksin tersebut. Tak terkecuali saya, dan sekeluarga.


Baca juga:


Resolusi dan Kesehatan

Ngomongin masalah resolusi, tentu kita semua memiliki resolusi yang baik-baik, ya. Meskipun terkadang resolusi-resolusi tersebut hanya jadi rancangan tanpa undang-undang kenyataan. Itu saya banget, haha!

Jujur, saya bukan anggota tim yang rajin bikin resolusi tahunan, apalagi komitmen untuk mewujudkan resolusi itu. haha. Saya mungkin tipikal orang yang sukanya mengalir saja, spontan dan sulit akur dengan to do list. Ya bisa sih menjalankan sesuatu berdasarkan daftar rencana, tapi ya gitu, nggak semua bisa dilakukan secara mutlak dan saklek sesuai daftar rencana.

Meski begitu, saya tetap berusaha melakukan yang terbaik agar tetap bisa mencetak goal meski tanpa rencana. Tak terkecuali urusan menjaga kesehatan.

Isu tentang kesehatan sudah ramai dibicarakan beberapa tahun terakhir, terlebih disaat terjadi pandemi seperti saat ini. Banyak masyarakat yang berbondong-bondong berhijrah untuk menjalani pola hidup lebih sehat dari sebelumnya.

Saya pribadi sebenarnya sudah mulai melirik wacana hijrah pola hidup sehat ini sejak lama, karena saat itu berat badan saya lumayan overweight. Dengan menjalani "makan bersih", alhamdulillah berat badan saya bisa kembali ke angka "waras". Nyatanya, pasca hamil anak ke-2 dan selesai masa menyusui, ditambah acara kumpul emak-emak doyan makan dua tahun terakhir ini, wasssalam sudah. haha alibi busuk.

Tetapi memang benar, di usia yang sudah 30++ ini kita harus aware dengan kesehatan kita. Kesehatan jiwa dan raga. Jangan menunggu sakit baru sibuk mencari obatnya. Tetapi sejak dini harus dan wajib sekali menerapkan alarm hidup sehat. Misalnya menjaga pola makan, kurangi konsumsi makanan"jorok" yang dapat menjadi toxic di tubuh kita. Kalau menghindari terasa sulit, setidaknya membatasi ritme dan kuantitinya. Ehh tapi, kesehatan jiwa juga mesti diperhatikan, lho. Dan ini cukup penting. Misalnya dengan plesir, dapat mengurangi polusi mata sebab bosan dengan pemandangan tumpukan cucian baju dan piring. Itu saya!

Kalau kalian urusan kesehatan masuk dalam daftar resolusi tahun ini nggak?


traveling di masa pandemi

Keinginan Traveling dimasa Pandemi dan Fenomena Medical Tourism

Siapa yang sudah gerah pengen segera bisa plesir?

Pucuk dicinta ulam tiba.

Akhir-akhir ini medical tourism menjadi perbincangan para kaum urban. Tingginya minat menyehatkan jiwa dengan plesir, diimbangi dengan meningkatnya awareness tentang kesehatan raga membuat medical tourism ini jadi primadona baru di kancah dunia per-traveling-an juga industri kesehatan.

Iyes, ngurusin kesehatan sekalian jalan-jalan. Ya sehat raganya ya sehat jiwanya. Eh tapi apa sih arti dari medical tourism ini?

Medical tourism adalah perjalanan seseorang ke luar negri untuk tujuan mendapatkan perawatan kesehatan seperti general check-up, treatment, rehabilitasi, hingga surgical sekaligus plesir dalam sekali jalan. 

Rumusnya begini, 
Medical Tourism= Medical and Healthcare services + Tourism and Travel Service + Support Service.

Pasien dari negara berkembang mencari pelayanan medis ke negara maju biasanya karena alasan kualitas teknologi, sedangkan pasien yang memilih pelayanan medis ke negara berkembang umumnya untuk mencari pelayanan kesehatan dengan biaya yang lebih ekonomis maupun treatment alternative.

Selain urusan mendapatkan pelayanan kesehatan yang diinginkan, tren medical tourism ini menjadi fenomena baru lantaran pelayanan plesirnya juga. Di negara berkembang seperti Indonesia dan Malaysia misalnya, kita memiliki banyak ragam tempat wisata dan budaya, termasuk ragam kuliner yang beraneka warna. Hal ini tentu menjadi pendongkrak tersendiri untuk menjadi pilihan.

Masa pandemi begini boleh traveling?

Setelah ditemukannya vaksin cov-19 dan perbaikan kualitas gaya hidup sehat dengan new normal, seharusnya sih sudah boleh ya. Asalkan tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Karena dengan patuh terhadap prokes menjadi hal utama untuk menjaga keamanan diri dan sekitar.


Malaysia Healthcare Travel Council

Bicara-bicara soal medical tourism, negara tetangga Malaysia punya layanan Medical Tourism yang patut menjadi pilihan utama. Malaysia Healthcare Travel Council ini memiliki banyak fasilitas dan pelayanan yang menggiurkan. Tidak hanya ragam pilihan plesir dan kuliner yang selalu menjadi cita-cita saya saat bertandang ke negri Jiran ini, urusan fasilitas kesehatannya juga sangat mumpuni dengan kualitas pelayanan yang prima. Plus biaya yang masih bersahabat, juga jarak yang cukup dekat karena letak geografis yang bersebelahan.

malaysia healthcare travel council

Tidak hanya lancong ke tempat-tempat wisata dan kuliner yang bikin ngiler itu, urusan belanja juga tentu menjadi salah satu itinerary wajib saat kita plesir, bukan? 

Jika ingin belanja tas branded ala artis, kita bisa menjelajahi Pavilion KL yang memajang deretan produk merek ternama dunia. Tapi kalau kantongnya cekak seperti saya, kita bisa memilih Sungei Wang Plaza yang menawarkan produk cantik dengan harga yang lebih bersahabat.

Capek jalan-jalan, kuliner seperti nasi lemak atau cemilan karipap, bisa dengan mudah kita dapatkan di banyak food court maupun street food. Ini dia yang bikin saya selalu ngiler pengen plesir ke negri upin-ipin ini. Suguhan kuliner yang ditawarkan itu lho, bikin awet gemuk. hihi.

Dan yang paling utama, berbagai tempat pelayanan kesehatan bertaraf internasional siap melayani masalah kesehatan kita. Dengan kawalan otoritas pemerintah setempat, sudah ditetapkan biaya standar yang bisa dihitung sebelum proses pengobatan dimulai. Jadi tidak ada istilah pasien tertipu biaya di akhir pengobatan.

Hmm sepertinya plesir ke Malaysia jadi salah satu harapan tahun ini juga nih. Sudah mbayangin makan nasi lemak bikinan kak Ros. Hoho.

Anyway, untuk detail dan fasilitas yang disediakan Malaysia Healthcare Travel Council ini temen-temen bisa kunjungi website resminya di medicaltourismmalaysia.id atau akun Instagram officialnya @medtourismmy.id

Jadi gimana, sudah merencanakan plesir dengan tetap peduli kesehatanmu?




안녕!

sera wicaksono

Posting Komentar

0 Komentar