Goblin vs My Demon, mana yang lebih nyesek?

goblin

Halo yeoreobun!

Drama Korea My Demon sudah berakhir beberapa pekan lalu dengan happy ending. Drama romance yang juga mengusung tema fantasi ini bercerita tentang seorang dokkaebi (도깨비) atau yang populer kita sebut Goblin. My Demon diperankan oleh Song Kang sebagai dokkaebi (도깨비) bernama Jeong Gu-won dan Kim You-jung sebagai pemeran utama wanita bernama Do Do-hee.

Benarkah My Demon meniru beberapa adegan drama Goblin yang diperankan Gong Yoo?

Tentang Drama Korea My Demon

Kisah romance mereka diawali dengan berpindahnya kekuatan kedemonan Jeong Gu-won ke tangan Do Do-hee. Hal aneh itu justru terjadi saat Gu-won ingin menolong Do-hee yang sedang dikejar seorang pembunuh bayaran.

Mengusung cerita misteri dibalik kematian pemilik perusahaan Grup Mirae, tentu saja membuat alur cerita sedikit menegangkan. Namun menurutku masih jantungan friendly. Adegan romantisme yang apik juga masih mendominasi seluruh alur cerita. Beberapa adegan konyol bahkan diselipkan sebagai obat penawar untuk mewaraskan ketegangan.

Opini saya tentang Drakor My Demon

Sejujurnya kalau dipikir-pikir, pekerjaan Jeong Gu-won sebagai Demon yang menggoda manusia untuk mau melakukan kontrak dengan imbalan kekayaan atau kekuatan itu mirip dengan adegan-adegan kontrak pesugihan dalam cerita misteri di film-film Indonesia, nggak sih? Hehe. Setelah kontrak selama 10 tahun itu selesai, si manusia pengontrak itu akan meninggoy. Kalau di cerita mistis pesugihan, itu semacam tumbal. Selain itu, si pengontrak sudah pasti masuk neraka. Hmmm, kupikir itu juga tidak jauh beda.

Quote yang juga menarik di episode awal My Demon adalah, bahwa dalam setiap diri manusia juga memiliki jiwa iblis. Tugas iblis hanya mengiming-iming kenikmatan duniawi, pada akhirnya, keputusan untuk menjadi manusia baik atau buruk itu mutlak keputusan manusia itu sendiri. Sedikit menohok, tapi realitanya, banyak manusia yang lebih iblis dari iblis itu sendiri. 안그래?

Opini saya yang lainnya, peran Choesang (최상) yang bisa diartikan sebagai Dewa di My Demon yang dirupakan sebagai sosok homeless itu agak mengganggu, sih. Kenapa tidak memilih perwujudan yang lebih baik? Dalam hal ini, saya justru lebih nyaman dalam drama Goblin yang Dewanya diwujudkan sebagai kupu-kupu yang juga bisa berpindah dari tubuh satu ke tubuh lainnya saat ingin menampilkan perwujudan yang kasat mata. 

Persamaan adegan saat Demon (Gu-won) menjadi abu dengan Goblin (Gong Yoo) apakah itu layak disebut meniru? Menurut saya pribadi sih peniruan itu muncul karena posisinya yang sama-sama duduk berhadapan dan nangis-nangis bombay itu. Kalau soal menjadi abu, bukankah dalam cerita fantasinya Dokkaebi (도깨비) memang akan berakhir menjadi abu? CMIIW.

Dengan ending bahagia, My Demon ditutup dengan ke-kiyowoan Song Kang sebagai Demon yang takut sama istri. Wkwkwk. Itu bener-bener romantis sih buat saya, karena romantis versi saya itu bukan ungkapan cinta setiap hari atau bunga dan coklat. Begitulah.

Seluruh alur cerita drama korea My Demon ini saya suka, namun yang benar-benar membuat saya terharu dan berkaca-kaca adalah saat Song Kang yang balik ke dunia lagi sebagai Demon itu mendatangi kedai nasi milik geng daun bawang yang kocak itu. Entah kenapa justru bagian itu yang membuat saya menangis.

Kalau bagian nyesek dalam Goblin yang mana?

Tentang Drakor Goblin

Sejujurnya, saya akhirnya menonton kembali Goblin dan menemukan beberapa part yang terlupakan atau justru ke-skip sejak awal. Drama berjudul asli Dokkaebi (도깨비) atau yang berarti Goblin itu nyatanya tetap berhasil membuat saya menangis tersedu-sedu meski sudah pernah menonton sebelumnya. Adegan Gong Yoo yang menangis tersedu di ruang kerjanya malaikat maut saat Ji Eun-tak meninggoy itu benar-benar membuat saya merasakan betapa patahnya hati si uri kiyowo ahjussi Gong Yoo. Rasanya benar-benar jleb banget. Asli sih, akting Gong Yoo benar-benar dalem banget.

Meski endingnya aku kurang suka (karena gak terlalu happy ending soale hehe), tapi seluruh alur ceritanya benar-benar bikin baper. Selain adegan man in the dark yang fenomenal itu, beberapa adegan seperti saat Ji Eun-tak terlempar kemudian berhasil ditangkap ahjussi dan berhasil menghempaskan belasan mobil, atau saat Gong Yoo memeluk Ji Eun-tak setelah meniup lilin di toko di Kanada ketika ingat si Goblin kembali, juga saat Gong Yoo bergegas kembali untuk mencium Ji Eun-tak yang ia tinggalkan di atas gedung sebelum akhirnya Goblin sirna itu benar-benar adegan yang sweet yang nggak ketolong. Asli daebak!

Btw, ada beberapa catatan kecil yang menurut saya cukup menarik. Yaitu adanya mitos tentang kehidupan yang konon memiliki 4 tahapan (Benih, Menanam, Memanen, dan Menikmati Hasil Panen). Menurut saya itu mirip dengan 4 tahapan kehidupan dalam agama yang saya anut.

  • Kehidupan pertama adalah benih, yaitu saat kita berada dalam alam kandungan. 
  • Kehidupan kedua adalah menanam, yaitu kehidupan kita di dunia yang seharusnya menanam segala kebajikan. 
  • Kehidupan ketiga adalah memanen, yaitu kehidupan di alam kematian yang konon merupakan alam persinggahan sebelum akhirat. Dalam alam kematian, konon kita akan memanen atau mendapat ganjaran sesuai yang kita kerjakan selama hidup di dunia, baik itu siksa atau ketenangan. 
  • Dan yang terakhir atau kehidupan keempat adalah kehidupan menikmati panen, yang boleh jadi merupakan kehidupan akhirat yaitu surga dan neraka. Tapi ini hanya cocokologi saya aja ya.

Anyway, hal lainnya yang juga menjadi catatan bagi saya adalah tentang Malaikat maut yang dikisahkan tercipta dari manusia-manusia pendosa besar. Dan dosa terbesar manusia adalah Bunuh Diri. Sepakat sih itu, dalam agama saya juga menyebutkan bahwa dosa terbesar adalah bunuh diri. Itu tak ter-maafkan.

Dalam percakapan ahjussi Lee Dong-wook dengan temannya sesama malaikat maut, menurutnya, kenapa malaikat maut yang bukan manusia harus tetap makan dan punya tempat tinggal layaknya manusia? Kenapa juga, malaikat maut tidak memiliki nama?

Penggambaran itu seperti ingin menjelaskan bahwa orang yang bunuh diri itu seakan tidak diterima di dua alam, baik alam dunia (karena sudah mati) dan alam kematian (karena seharusnya dia belum ditakdirkan mati).

Disebutkan bahwa pada hakikatnya Tuhan ingin menunjukkan agar manusia lebih menghargai atas nyawa dan kesempatan hidup yang diberikan. Singkatnya, banyak-banyak bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.

Amteun, dalam setiap cerita pasti memiliki nilai-nilai kehidupan yang bisa kita petik. Kehidupan sosial di Korea memang sedikit berbeda dengan kita di Indonesia, tetapi nilai-nilai luhur kehidupan di belahan dunia mana pun menurutku akan tetap sama.

Nah yeoreobun, kalau kalian lebih nyesek saat nonton My Demon atau Goblin? Yuk cerita di kolom komentar, siapa tahu kita sepakat!



안녕!

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url